Metodologi Penelitian


  BAB I
PENDEKATAN ILMIAH DALAM PENDIDIKAN
  
A.          PENGERTIAN PENELITIAN

Penelitian adalah merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data secara akurat dengan tujuan dan kegunaan tertentu.
Berdasarkan pengertian tersebut terdapat empat hal yang perlu dipahami lebih lanjut yaitu :
1.            Cara ilmiah
2.            Data
3.            Tujuan
4.            Kegunaan

Penelitian itu merupakan cara ilmiah, berarti penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu :
1.            Rasional artinya kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal sehingga terjangkau oleh nalar manusia.
2.            Empiris artinya cara-cara yang digunakan dalam penelitian itu teramati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat menga mati dan mengetahui cara-cara yang akan digunakan. (Bedakan cara yang digunakan yang tidak ilmiah, misalnya mencari data hilangnya pesawat terbang melalui paranormal, memprediksi data nomor undian dengan bersemedi di tempat-tempat yang dianggap keramat, dll).
3.            Sistematis artinya proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis.

B.          HAKEKAT PENELITIAN

1.            Penelitian adalah upaya mencari kebenaran akan sesuatu
2.            Penelitian ilmiah adalah penelitian yang menggunakan metode ilmiah/metode keilmuan
3.            Penelitian pendidikan adalah penerepan metode ilmiah dalam masalah pendidikan. Sebagai suatu kegiatan yang diarahkan ke-pada pengembangan pengetahuan ilmiah tentang kejadian-kejadian yang menarik perhatian para pendidik.
4.            Kebenaran dalam penelitian ilmiah adalah kebenaran ilmiah
a.       Kebenaran koherensi menganut logika deduktif, sifatnya rasional
b.      Kebenaran korespondensi menganut logika induktif, sifatnya faktual/empirik (teramati oleh indera kita)

Sesuatu yang menjadi sasaran penelitian biasanya disebut masa-lah penelitian, yang selanjutnya diangkat menjadi judul penelitian, dan menggambarkan kaitan antar dua variabel atau lebih. Namun demikian, tidak semua masalah layak diangkat menjadi judul penelitian.


C.          SUMBER PENGETAHUAN

1.     Pengalaman adalah sumber pengetahuan yang telah banyak di-ketahui dan digunakan orang.
Keterbatasan sumber ini :
a.       Tergantung pada orangnya
b.      Pengalaman bersifat subyektif
c.       Tidak semua pengetahuan dapat dipelajari

2.      Wewenang atau otoritas sering dijadikan pegangan orang dalam hal-hal yang sulit atau tidak mungkin diketahui melalui pengalaman pribadi.
Kelemahannya :
a.       Orang yang berwenang bisa salah
b.      Orang yang berwenang sering berbeda pendapat.
c.       Pendapatnya sering bersifat pribadi.

3.     Cara berpikir deduktif : Sumbangan pertama bagi perkembang an pendekatan sistematik dalam menemukan kebenaran diberi kan oleh para ahli filsafat Yunani (Aristoteles). Bila dasar pemi kirannya benar, maka kesimpulannya benar.
Kelemahannya :
a.       Dimulai dari pemikiran yang benar dulu, untuk sampai ke-pada kesimpulan yang benar.
b.      Sulit menemukan kebenaran universal
Kelebihannya :
a.       Memberikan sarana penghubung antara teori dan penga-laman
b.      Dapat menarik kesimpulan berdasarkan teori yang sudah ada tentang gejala yang seharusnya diamati.
c.       Deduktif dapat menghasilkan hipotesis, suatu bagian penting dalam penelitian ilmiah.

4.        Cara berpikir induktif : Berdasarkan kejadian-kejadian yang diamati ditarik kesimpulan tentang keseluruhan, kesimpulan dicapai dengan jalan mengamati contoh-contoh, barulah dibuat generalisasi seluruh kelas. Induktif hanya dapat mutlak apabila kelompok yang menjadi obyek kecil.
Kelemahannya :
a.       Banyak masalah tidak dapat dipecahkan hanya dengan berfikir induktif
b.      Penggunaan induksi secara eksklusif menyebabkan me-numpuknya pengetahuan dan informasi terpisah-pisah, sehingga tidak banyak mendorong kemajuan pengetahu-an.

5.       Pendekatan ilmiah : biasanya dilukiskan sebagai proses dimana peneliti secara induktif bertolah dari pengamatan mereka menuju hipotesis. Kemudian secara deduktif peneliti bergerak dari hipotesis ke implikasi logis hipotesis tersebut.

D.          HAKEKAT ILMU

Semua ilmu mempunyai persamaan dalam metode umum untuk mencapai pengetahuan yang dapat dipercaya (realibel). Metode penyelidikan itulah yang menentukan apakah suatu disiplin merupakan ilmu atau bukan.

Beberapa aspek pendekatan ilmiah
1.              Asumsi yang dibuat ilmuwan :
c Kejadian-kejadian yang mereka teliti bersifat taat hukum, tidak ada kejadian yang tidak berguna.
c Semua kejadian alam mempunyai faktor antaseden, yang dapat diketahui lewat pengamatan (determinisme univer sal).
c Kebenaran pada akhirnya dapat diperoleh secara tuntas hanya dari pengamatan langsung.
c Ilmu sama dengan pengamatan empiris.
c Ilmu tidak menggantungkan diri kepada orang yang mempunyai otoeitas sebagai sumber kebenaran.

2.            Sikap para ilmuwan :
a.       Ilmuwan adalah orang yang sangsi, yang meragukan setiap data ilmu.
b.      Ilmuwan bersikap obyektif dan tidak memihak.
c.       Ilmuwan berurusan dengan fakta-fakta
d.      Ilmuwan tidak puas dengan fakta yang terpisah.

3.            Teori ilmiah : Puncak teori ilmiah dalam bentuk perumusan teoritis.
Teori adalah sebagai himpunan pengertian (contruct atau concept) yang saling berkaitan, batasan, serta proposi yang menyajikan pandangan sitematis tentang gejala-gejala dengan jalan menetapkan hubungan yang ada di antara variabel-variabel, dan dengan tujuan untuk menjelaskan serta meramalkan gejala-gejala tersebut.

4.            Keterbatasan pendekatan ilmiah dalam ilmu-ilmu sosial :
a.       Kepelikan masalah
b.      Kesukaran dalam pengamatan
c.       Kesukaran dalam replikasi
d.      Interaksi antara pengamatan dan subyek
e.       Kesukaran dalam pengendalian
f.       Masalah pengukuran.

E.    PROSES PENELITIAN

Penelitian itu dimulai dengan adanya masalah. Masalah merupakan penyimpangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi. Masalah tersebut selanjutnya ingin dipecahkan oleh peneliti melalui penelitian. Supaya arah penelitian menjadi lebih jelas maka peneliti perlu berteori sesuai dengan lingkup permasalahan. Dengan berteori itu maka peneliti dapat membangun kerangka pemikiran sehingga dapat digunakan untuk menjawab permasalahan yang diajukan. Jawaban terhadap permasala-han yang baru menggunakan teori tersebut dinamakan hipotesis. Jadi hipotesis penelitian itu merupakan jawaban sementara terhadap rumu-san masalah penelitian. Dikatakan sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Dikatakan sementara karena jawabanya baru menggunakan teori.
Untuk membuktikan kebenaran jawaban yang masih sementara (hipotesis) itu maka peneliti melakukan pengumpulan data pada obyek tertentu. Karena obyek sebagai poulasi terlalu luas, maka peneliti menggunakan sampel yang diambil dari poulasi itu. Sampel yang diambil dari poulasi itu haruslah sampel yang representatif (mewakili). Untuk keperluan ini maka diperlukan teknik statistik untuk menemukan jumlah sampel.
          Setelah populasi dan sampel sebagai obyek penelitian ditetapkan oleh peneliti, maka langkah selanjutnya peneliti mengumpulkan data dari obyek itu (obyek dapat manusia atau benda alam). Untuk dapat mengumpulkan data dengan teliti, maka peneliti perlu menggunakan instrumen penelitian (alat ukur). Instrumen yang baik adalah instrumen yang valid dan realibel. Dengan instrumen yang valid dan realibel ini diharapkan didapat data yang valid dan realibel pula. Bila peneliti ingin menyusun instrumen tersebut harus diuji validitas dan reliabilitasnya. Untuk keperluan ini maka diperlukan tekhnik statistik yang dapat digunakan untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen.
Data yang telah dikumpulkan oleh peneliti dari populasi atau sampel yang ditetapkan selanjutnya dideskripsikan melalui penyajian data. Dengan demikian gambar menjadi jelas baik bagi peneliti sendiri maupun oleh orang lain yang berminat untuk mengetahui. Untuk keperlu-an penyajian data ini, maka diperlukan teknik stastitik, yaitu stastitik deskriptif.
Kegiatan penelitian selanjutnya adalah melakukan analisis data. Analisis data dilakukan terutama untuk menjawab rumusan masalah, dan menguji hipotesis yang telah diajukan. Terdapat pula dua macam hipotesis, yaitu hipotesis penelitian dan hipotesis stastitik. Pengertian hipotesis penelitian seperti telah dikemukakan di atas yaitu merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah. Sedangkan hipotesis stastitik adalah dugaan keadaan populasi dengan menggunakan data sampel. Dengan demikian penelitian yang melakukan pengujian hipotesis stastitik adalah penelitian yang menggunakan data sampel. Bila peneliti merumuskan hipotesis penelitian dan ingin mengujinya dengan menggu-nakan data populasi (bukan sampel) maka peneliti tidak akan menguji hipotesis stastitik.
Ciri khas adanya pengujian hipotesis statistik adalah adanya taraf kesalahan yang ditetapkan, atau taraf signifikansi. Untuk keperlu-an pengujian hipotesis penelitian maupun statistik maka diperlukan tekhnik statistik.
Setelah analisis dilakukan, sehingga dapat dibuat keputusan hipo-tesis yang diajukan diterima atau ditolak, maka kegiatan penelitian selanjutnya adalah memberikan pembahasan. Pembahasan merupakan ”pencandraan” terhadap hasil penelitian maupun analisis dengan menggunakan berbagai referensi, sehingga hasil penelitian maupun analisisnya akan lebih dapat diyakini oleh pihak-pihak lain.
Langkah akhir dari kegiatan penelitian adalah membuat kesimpulan dan memberikan saran-saran. Kesimpulan ini merupakan jawaban rumusan masalah penelitian dengan menggunakan data yang telah diperoleh (bukan hanya teori). Selanjutnya berdasarkan kesimpulan itu peneliti memberikan saran-saran. Saran-saran yang diberikan harus betul-betul dari hasil penelitian, bukan pemikiran.
  
    
 BAB II
MACAM-MACAM PENELITIAN

A.          MENURUT PARADIGMA YANG DIANUT

Menurut paradigma yang dianut, ada dua macam penelitian;
1.           Penelitian KUANTITATIF
Yang mengacu pada context of justification, pada dasarnya menguji teori yang berkaitan dengan masalah penelitian melalui kerangka berfikir yang dirumuskan dalam bentuk hipotesis penelitian.
Penelitian ini antara lain :
c Survei
Yang dapat berupa penelitian korelasional ataupun peneli tian evaluatif.
c Eksperimen
Yang dapat beruba uji perbedaan.
Hasil penelitian kuantitatif dapat digeneralisasikan.

2.           Penelitian KUALITATIF/NATURALISTIK
Mengacu pada context of discovery, pada dasarnya mengha-rapkan penemuan sesuatu yang nantinya dapat diangkat men-jadi hipotesis bagi penelitian kuantitatif.
Penelitian ini antara lain;
c Penelitian kasus
Seperti penelitian kelas (calroom research) yang sifat-nya terbatas.
c Kaji tindak (action research)
Hasil penelitian kualitatif tidak dapat digeneralisasikan.

B.   BERDASARKAN KEGUNAAN

Berdasarkan kegunaan, penelitian dapat dibedakan menjadi :
1.           PENELITIAN DASAR.
Bertujuan untuk memperoleh data empiris yang dapat diguna-kan untuk merumuskan, memperluas atau mengevaluasi teori. Tujuan pokok dari penelitian ini adalah untuk memperluas batas-batas pengembangan tanpa mempertimbangkan penera pannya secara praktis.

2.           PENELITIAN TERAPAN.
Penelitian penerapan bertujuan untuk memperbaiki proses se-
suatu atau memodifikasinya berdasarkan teori-teori yang ada. Peneliti berusaha untuk menemukan langkah-langkah perbaikan dalam suatu aspek kehidupan.

3.           PENELITIAN TINDAKAN.
Penelitian tindakan dilakukan untuk memperbaiki keadaan atau situasi tertentu, dengan tetap berlandaskan teori ilmiah. Dila kukan secara terbatas.

4.           PENELITIAN EVALUASI.
Penelitaian evaluasi bertujuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu kegiatan yang sedang berjalan dalam rangka mencari umpan balik sebagai upaya untuk memperbaiki kegia-tan.

5.           PENELITIAN ASESMENT.
Penelitian asesment adalah penelitian yang dilakukan setelah menentukan perubahan/perbaikan perilaku individu setelah men jalani suatu perlakuan dalam jangka waktu tertentu berdasar kan program tertentu.

C.          BERDASARKAN TEMPAT

1.             Penelitian laboratorium
2.             Penelitian lapangan/sekolah
3.             Penelitian kepustakaan.

D.          BERDASARKAN TUJUAN

1.             Penelitian eksploratif
2.             Penelitian pengembangan

E.           BERDASARKAN METODE/BENTUK

1.        PENELITIAN EKSPERIMENTAL
Metode ini adalah prosedur penelitian yang dilakukan untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat dua variabel atau lebih, dengan mengendalikan pengaruh variabel yang lain. Metode ekperimental merupakan suatu cara yang sistematis dan logis untuk menjawab pertanyaan : “Jika sesuatu dilakukan pada kondi si-kondisi yang dikontrol secara teliti, apakah yang akan terjadi?” Penelitian eksperimental bertujuan untuk mendiskripsikan apa-apa yang terjadi bila variabel-variabel tertentu dikontrol atau dimanipulasi secara tertentu.

Menurut tujuannya metode ini dibedakan dalam dua jenis ekspe rimen sebagai berikut;
c EKSPERIMEN EKSPLORATIF
Eksperimen ini bermaksud untuk mempertajam masalah dan perumusan hipotesis tentang hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih.
c EKSPERIMEN PENGEMBANGAN
Eksperimen ini digunakan untuk menguji/mengetes atau membuktikan hipotesa dalam rangka menyusun generalisasi yang berlaku umum.

Metode eksperimen berdasarkan pelaksanaannya dikelompok kan menjadi dua jenis, sebagai berikut;
c EKSPERIMEN MURNI
Di dalam eksperimen ini perlakuannya segaja dibuat akan dikenakan pada obyek penelitian. Kondisi obyek penelitian sengaja dirubah dengan memberikan perlakuan tertentu dengan mengontrol variabel lainnya secara cermat dalam jangka waktu tertentu.
c EKSPERIMEN BERPURA-PURA
Di dalam eksperimen ini kondisi obyek penelitian sulit untuk dirubah dalam bentuk memberikan perlakuan tertentu. Oleh karena itu di dalam kondisi yang sudah berlangsung itu diusahakan memisahkan variabel yang ada, sehingga seolah-olah terdapat perlakuan dan variabel kontrol serta variabel-variabel lain seperti terdapat di dalam eksperimen yang sebenarnya.

Di dalam eksperimen terdapat variabel-variabel sebagai berikut;
c Variabel eksperimen, yang juga disebut perlakuan.
c Variabel terikat, atau variabel tergantung
c Variabel kontrol, variabel yang tidak diberi perlakuan eksperimen.
c Variabel sampingan, variabel yang tidak dapat dikendalikan, akan tetapi berpengaruh terhadap perlakuan.
c Variabel ekstrance, variabel ini adalah sejumlah gejala (kondisi) yang tidak dapat dikontrol dan diperhitungkan pengaruhnya, kadang-kadang gejala ini tidak diketahui bentuknya.

Dalam penelitian variabel yang paling utama adalah variabel bebas dan variabel terikat. Variabel adalah kondisi-kondisi atau karakteristik yang oleh peneliti dimanipulasi, dikontrol atau diobservasi. Variabel Bebas (independent variable) adalah kondisi atau karakteristik yang oleh pengeksperimen (peneliti) dimanipulasi di dalam rangka untuk menerangkan hubungannya dengan fenomena yang diobservasi. Sedangkan variabel Terikat/Tergantung (dependent Variable) merupakan kondisi atau karak-teristik yang berubah, atau muncul, atau yang tidak muncul ketika peneliti mengintroduksi, merubah, atau mengganti variabel bebas.

RANCANGAN EKSPERIMEN

Rancangan eksperimen pada dasarnya menggambarkan prosedur-prosedur yang memungkinkan peneliti menguji hipotesis penelitiannya, untuk mencapai kesimpulan yang valid mengenai hubungan variabel bebas dengan variabel terikatnya.
Konsep variabel tunggal memang terbukti ada gunanya pada beberapa bidang ilmu. Tetapi tidak demikian halnya dengan ilmu perilaku, hal itu disebabkan karena jarang sekali terjadi sebab-sebab tunggal. Peristiwa di dalam ilmu perilaku biasanya merupakan akibat interaksi berbagai variabel. Suatu eksperimen mengandung upaya perbandingan mengenai akibat perlakuan yang satu dengan perlakuan lainnya.

Variabel yang bukan merupakan perhatian langsung dapat ditiadakan, atau diminimalkan pengaruhnya, melalui metode :
a.       Meniadakan variabel (misalnya subyeknya wanita saja)
b.      Menjodohkan kasus
c.       Menyeimbangkan kasus
d.      Analisis kovarian, dan
e.       Perambangan.
Rancangan yang paling sering digunakan dan sederhana : membandingkan suatu kelompok yang menerima perlakuan dengan kelomok lain yang tidak mendapat perlakuan (treatment)

2.      PENELITIAN EX POST FACTO
Penelitian ex post facto dimaksudkan untuk menguji apa yang telah terjadi pada subyek. Disebut ex post facto dimaksudkan untuk menguji apa yang telah terjadi pada subyek. Disebut ex post facto, secara harfiah berarti sesudah fakta karena kausa atau sebab yang diselidiki tersebut sudah berpengaruh pada variabel lain. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menyelidiki apakah satu atau lebih kondisi yang sudah terjadi mungkin menyebabkan perbedaan perilaku pada kelompok subyek.

3.      PENELITIAN SEJARAH

4.      PENELITIAN DESKRIPTIF, dengan sub kategori :
a.       Studi kasus                              e.   Survei
b.      Studi perkembangan               f.   Studi tindak lanjut
c.       Analisis dokumenter               g.   Studi kecenderungan
d.      Studi korelasi

Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemeca-han masalah yang diselidiki dengan hanya menggambarkan kea-daan subjek/objek penelitian berdasarkan fakta-fakta sebagai-mana adanya.

Yang termasuk dalam metode ini antara lain :
a.       Survei (survey studies)
Survei bertujuan bukan hanya memaparkan data tentang obyeknya, akan tetapi juga menginterpretasikan dan mem-bandingkan dengan ukuran tertentu yang sudah ditetapkan.
Yang termasuk dalam kelompok metode ini adalah:
c  Studi Kasus
Penelitian ini memusatkan diri secara intensif terhadap suatu obyek tertentu, dengan mempelajarinya sebagai suatu kasus. Misalnya : seorang murid yang menunjuk kan kelainan, sebuah kelompok anak nakal, sebuah desa dan lain-lain dapat diselidiki secara intensif baik secara menyeluruh maupun mengenai aspek-aspek tertentu yang perlu mendapat perhatian khusus.
c  Studi sebab akibat dan perbandingan
Dalam studi dilakukan usaha untuk memahami mengapa suatu gejala terjadi atau sebabnya peristiwa, keadaan atau situasi berlangsung.
c  Studi korelasi
Hubungan yang terdapat dalam penelitian ini adalah hubungan linear berupa hubungan timbal balik antar dua variabel yang disebut korelasi.
c  Analisis isi
Analisis isi dalam penelitian dilakukan untuk mengungkap kan isi sebuah buku yang menggambarkan situasi penulis dan masyarakatnya pada waktu buku itu ditulis.
c  Survei Pendapat umum
Untuk menetapkan kebijaksanaan yang tepat diperlukan pengetahuan yang cukup tentang pendapat umum be-rupa sikap dan beberapa kecenderungan lain yang ber laku dalam kelompok tertentu atau dalam masyarakat luas,  terutama mengenai kebijaksanaan yang akan dite-tapkan.
c  Survei Kemasyarakatan
Penelitian ini bermaksud untuk mengungkapkan aspek atau beberapa aspek tertentu dalam kehidupan masyarakat. Melalui penelitian ini dikumpulkan data untuk mengambil kesimpulan tentang pendapat, keinginan, kebutuhan, kondisi dan lain-lain di dalam masyarakat mengenai aspek yang diselidiki.

b.      Studi hubungan (interrelationship studies)
Dalam metode diskritif telah dikembangkan beberapa cara penelitian sebagai berikut;
c Studi Kasus
Studi ini memusatkan diri secara intensif terhadap satu objek tertentu, dengan mempelajarinya sebagai suatu kasus. Misalnya seorang murid yang menunjukkan kelainan, sebuah kelompok anak nakal, sebuah desa dan lain-lain dapat diselidiki secara intensif baik secara menyeluruh maupun mengenai aspek-aspek tertentu yang perlu mendapat perhatian khusus.
c Studi sebab akibat dan perbandingan
Dalam studi dilakukan usaha untuk memahami mengapa suatu gejala terjadi atau apa sebabnya peristiwa, keadaan atau situasi berlangsung.

c.       Studi perkembangan (developmental studies)
Studi perkembangan tidak sekedar mengenai fakta-fakta pada masa sekarang. Untuk itu peneliti dapat menggambar kan perkembangan berbagai variabel dari aspek yang diseli dikinya, mungkin selama sebulan, setahun atau lebih sampai pada bagaimana adanya gejala itu pada masa sekarang. Untuk itu dapat digunakan dua cara penelitian sebagai berikut;
c Studi pertumbuhan
Studi ini menggambarkan pertumbuhan atau perkemba ngan yang dialami objeknya, baik secara keseluruhan maupun mengenai aspek-aspek tertentu dalam batas waktu yang tertentu pula.
c Studi kecenderungan
Studi ini bermaksud memperkirakan keadaan suatu lembaga atau kemungkinan yang akan terjadi atau situasi yang akan dihadapi di masa mendatang.



êêêêê
  
 BAB III
JUDUL, MASALAH PENELITIAN, LANDASAN TEORI,
KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A.   JUDUL PENELITIAN

Judul penelitian menggambarkan interaksi antara dua variabel atau lebih, baik membedakan (pengaruh) ataupun menghubungkan (keterkai-tan). Judul penelitian terdiri dari dua variabel atau lebih dan mengandung masalah dan bersifat logis serta singkron.

Contoh-contoh perumusan judul penelitian :
1.      Hubungan antara pemahaman tentang hak dan kewajiban warga Negara di bidang hukum dengan sikap mahasiswa terhadap pembelian karcis/tiket.
2.      Perbedaan prestasi belajar PPKn antara siswa yang tinggal di Pondok Pesantren dengan yang tinggal di luar Pondok Pesantren.
3.      Peranan pondok Pesantren dalam membina anak jalanan melalui pendidikan agama yang konsisten.

B.   MASALAH PENELITIAN

Penelitian diawali dengan suatu persoalan, adanya kesulitan, hambatan, atau masalah yang meragukan. Peneliti mencari jawaban terhadap persoalan tersebut.

Sumber masalah penelitian :
1.            Pengalaman: Fenomena pendidikan di ruang kelas, di sekolah, di masyarakat, pengalaman akademis.
2.            Deduksi dari teori. e Landasan teoritis
3.            Kepustakaan yang berkaitan
4.            Sumber non-kependidikan, kemajuan teknologi.

Mengevaluasi masalah penelitian :
1.            Sebaiknya masalah tersebut merupakan masalah yang pemecahannya akan memberikan sumbangan kepada pengeta huan di bidang pendidikan.
2.            Persoalan yang akan membawa kita kepada persoalan baru dan dengan demikian juga kepada peneliti berikutnya.
3.            Persoalan harus merupakan persoalan yang dapat diteliti
4.            Persoalan harus sesuai bagi peneliti :

4.1  Menarik bagi peneliti
4.2  Dalam bidang ilmu yang dikuasai oleh peneliti
4.3  Dapat dilakukan di tempat dan situasi peneliti
4.4  Dapat diselesaikan dalam waktu yang tersedia
4.5  Tersedia dana yang cukup

Mengemukakan masalah :
a.             Menerangkan dengan jelas apa yang akan diterangkan atau dipecahkan
b.            Membahas ruang lingkup studi itu pada suatu persoalan khusus (sesuaikan dengan judul penelitian)

Rumusan masalah penelitian biasanya :
a.             Dalam bentuk kalimat bartanya
b.            Menanyakan ada tidaknya perbedaan atau hubungan antara dua variabel atau lebih
c.             Belum mengarah (belum mengacu teori)
d.            Sebaiknya sama banyak dengan rumusan hipotesis penelitian.

Contoh-contoh perumusan masalah :
1.            Apakah terdapat hubungan antara pemahaman tentang hak dan kewajiban warga negara di bidang hukum dengan sikap mahasiswa terhadap pembelian karcis?
2.            Adakah perbedaan prestasi belajar PPKn antara siswa yang tinggal di Pondok Pesantren dengan yang tinggal di luar Pondok Pesantren?
3.            Bagaimana peranan Pondok Pesantren dalam membina anak jalan?

C.   LANDASAN TEORI

Karena variabel penelitian memuat variabel konstruk, maka untuk menjaring data dari variabel itu perlu jelas teori yang melandasinya. Dari teori itulah dirumuskan indikator-indikator guna menyusun butir-butir pertanyaan dalam instrumen oleh karena itu teori harus kuat.
Teori adalah sebagai himpunan pengertian (construkt atau concept) yang saling berkaitan, batasan, serta proposi yang menyajikan pandangan sistematis tentang gejala-gejala dengan jalan menetapkan hubungan yang ada di antara variabel-variabel, dan dengan tujuan untuk menjelaskan serta meramalkan gejala-gejala tersebut.
Tujuan akhir ilmu membentuk teori, yang mempunyai sifat memberi keterangan, ramalan, pengendalian.

Macam-macam teori :
1.      Induktif,
2.      Deduktif hipotesis.
  
Kegunaan teori :
a.       Teori meringkas dan menyusun pengetahuan yang ada dalam suatu bidang tertentu.
b.      Teori memberikan keterangan sementara mengenai peristiwa-peristiwa
c.       Teori mampu merangsang perkembangan pengetahuan baru dengan jalan memberikan bimbingan ke arah penyelidikan selanjutnya.

Ciri-ciri teori :
a.       Teori harus dapat menerangkan fakta hasil pengamatan yang ada hubunganya dengan masalah.
b.      Teori harus konsisten dengan fakta yang diamati dan dengan kerangka penge-tahuan yang sudah mapan.
c.       Teori harus memberikan cara pembuktian yang sebenarnya.
d.      Teori harus merangsang penemuan baru dan menunjukkan bidang-bidang baru yang harus diselidiki.

D.   KERANGKA BERPIKIR

Kerangka berpikir adalah hasil pemikiran peneliti berdasarkan teori-teori yang ada tentang variabel yang diteliti dan dirumuskan dari masalah penelitian. Kerangka berpikir merupakan argumentasi atau benang merah dari keterkaitan antara variabel bebas dan variabel terikat. Kerangka berpikir merupakan landasan untuk mengajukan hipotesis penelitian

Kerangka berpikir biasanya :
1.      Dirumuskan dalam bentuk kalimat pernyataan
2.      Biasanya diakhiri dengan kata diduga
3.      Tidak memuat teori lagi
4.      Mengarah kepada rumusan hipotesis

E.    HIPOTESIS

Hipotesis merupakan jawaban sementara dari masalah penelitian. Hipotesis merupakan landasan logis dan pemberi arah kepada proses pengumpulan data serta proses penyelidikan itu sendiri. Tidak semua penelitian mengajukan hipotesis, hanya penelitian ilmiah yang mengaju kan hipotesis. Suatu hipotesis akan diperiksa dan diuji kebenarannya. Kesimpulan tentang benar salahnya berdasarkan bukti-bukti empiris yang relevan dengan hipotesis yang bersangkutan.

Ciri-ciri hipotesis yang baik :
1.      Dapat diterima oleh akal sehat

2.      Konsisten dengan teori dan fakta yang telah diketahui
3.      Rumusan dinyatakan sedemikian rupa sehingga dapat diuji dan ditemukan benar salahnya.
4.      Menyatakan hubungan yang diharapkan ada di antara variabel.
5.      Dinyatakan dalam perumusan yang sederhana dan jelas.

Ada dua bentuk hipotesis yaitu :
1.      Hipotesis penelitian, dirumuskan secara naratif berdasarkan kerangka berpikir peneliti dan landasan teori yang telah dipilih.
a.       Dirumuskan dalam bentuk kalimat pernyataan
b.      Tanpa kata diduga
c.       Sudah mengarah (bagaimana bentuk perbedaan atau hubungan yang dipermasalah-kan)
d.      Banyaknya sesuai dengan kerangka berpikir dan rumusan masalah.

Contoh perumusan hipotesis penelitian :
a.       Terdapat hubungan positif antara pemahaman tentang hak dan kewajiban warga negara di bidang hukum dengan sikap mahasiswa terhadap pembelian karcis.
b.      Hasil belajar santri yang tinggal di Pondok Pesantren lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar santri yang tinggal di luar Pondok Pesantren.

2.      Hipotesis stastitik, yang dirumuskan secara matematis dalam bentuk dua kalimat matematika :
a.       Berbentuk :
H0  : Hipotesis of no difference, dengan tanda ”=” sebagai lawan dari hipotesis penelitian, dan ini yang diuji
H1  : Berisi hipotesis penelitian dengan tanda ”≠”, ”>” atau ”<”
b.      Apabila hipotesis penelitian ada di H0, maka H1 tak perlu dituliskan
c.       Karakteristik yang diuji adalah karakteristik populasi, biasanya ditulis dengan huruf yunani (р, α2, ¥, dll)
d.      Kriteria pengujian : tolak H0 apabila nilai hitung lebih besar dari pada nilai kritis.



êêêêê

 BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN, ANALISIS STATISTIK, DAN
INTERPRESTASI 

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian di sini mencakup pembahasan tentang :

A.         TUJUAN OPERASIONAL :

Digunakan untuk menegaskan kembali dan memberi arah tentang apa yang akan diteliti.

B.         DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL :

Merupakan definisi konseptual yang pengertiannya seperti dalam kajian teoritik, tetapi konsep itu harus dapat diobservasi secara langsung, misalnya menunjuk skor tertentu dari tes yang relevan.

BESARAN (QUANTITY) adalah segala sesuatu yang memiliki besar (magnitude).

Ada dua jenis besaran :
1.            Tetapan (Konstanta), yaitu besaran yang tetap tertentu
2.            Perubah (variabel), yaitu besaran yang berubah-ubah, bervariasi, membentuk sekumpulan data (informasi).

C.         VARIABEL PENELITIAN

Dalam penelitian kuantitatif, biasanya peneliti melakukan penguku-ran terhadap keberadaan suatu variabel dengan menggunakan instru-men penelitian. Setelah itu mungkin peneliti melanjutkan analisis untuk mencari hubungan satu variabel dengan variabel yang lain.
Variabel merupakan gejala yang menjadi fokus peneliti untuk diamati. Variabel itu sebagai atribut dari sekelompok orang atau obyek yang mempunyai variasi antara satu dengan yang lainnya dalam kelom-pok itu. Tinggi, berat badan, sikap, motivasi, kepemimpinan, disiplin kerja, warna rambut merupakan atribut dari seseorang. Selanjutnya berat, ukuran, bentuk, dan warna merupakan atribut dari obyek. Atribut ini akan bervariasi bila terjadi pada sekelompok orang atau obyek yang
diambil secara random. Bila tinggi badan, motivasi kerja, kemampuan, gaya kepemimpinan dari 30 orang sama, maka semua itu bukanlah variabel. Jadi dikatakan variabel karena ada variasinya.

1.      Dilihat dari konsepnya ada dua macam variabel :
Variabel Fakta, yaitu variabel yang dalam menjaring datanya (instrumennya) tidak memerlukan teori.
Variabel konstruk, yaitu variabel yang dalam menjaring data nya (instrumenya) memerlukan teori dan konsep yang dijabarkan menjadi indikator-indikator untuk menyusun butir-butir pertanyaan.

2.      Dilihat dari hubungan fungsionalnya ada :
Variabel bebas (variabel independen), Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, input, prediktor, dan antecement. Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel deenden (variabel terikat). Jadi variabel bebas adalah variabel yang mempenga ruhi variabel lainnya.
Variabel terikat (variabel Dependen), sering disebut sebagai variabel respon, output, kriteria, konsekuen. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.

Antara variabel independen dan dependen, masing-masing tidak berdiri sendiri tetapi selalu berpasangan. Contoh :
c    Pemahaman metodologi penelitian dan motivasi menulis skripsi
   Pemahaman metodologi penelitian = variabel independen (bebas)
   Motivasi menulis skripsi = variabel dependen (terikat)

D.         INTERAKSI ANTAR VARIABEL

Dua variabel atau lebih hanya dapat :
1.            Dibedakan atau dibandingkan, apabila teoritik memang layak dibandingkan (comparable), dan persyaratan lain dipenuhi (berdis-tribusi normal dan variasinya homogen).
2.            Dihubungkan, apabila teoritik memang layak dihubungkan, dan persyaratan layak dipenuhi (berdistribusi normal, untuk korelasi pearson bentuk regresi linear, koevisien regresi bermakna, sampel acak, ukuran sampel minimum dipenuhi).

Dua variabel atau lebih yang dibandingkan atau dihubungkan itu tidak boleh semuanya variabel fakta.


E.          MACAM-MACAM DATA

Untuk keperluan uji perbedaan dan uji hubungan diperlukan beberapa persyaratan, antara lain macam data sebagai kumpulan informasi dari variabel-variabel yang akan diteliti.
Data  dibedakan atas :
1.        Data kualitatif, yaitu data yang dinyatakan dengan atribut.
2.        Data kuantitatif, data yang dinyatakan dengan bilangan.
Data kuantitatif dibedakan menjadi :
2.1     Data kontinum atau interval atau rasional, yakni data yang dapat disajikan dengan bilangan rasional (bulat dan pecah). Data kontinum diperoleh dari hasil pengukuran.
Data kontinum dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu :
2.1.1                 Data Ordinal
Adalah data yang berjenjang atau berbentuk pering-kat. Oleh karena itu jarak satu data dengan yang lain mungkin tidak sama. Juara I, II, III; Golongan I, II, III; Eselon I, II, III, IV dsb. Data ordinal biasanya makin kecil angkanya, maka semakin tinggi nilainya. Data ordinal dapat dibentuk dari data interval atau rasio.
2.1.2              Interval
Adalah data yang jaraknya sama, tetapi tidak mem-punyai nilai nol absolut (mutlak). Pada data ini, walau pun datanya nol, tetapi masih mempunyai nilai. Misal nya 0 derajat celcius, ternyata masih ada nilainya. Dalam penelitian sosial yang instrumennya mengguna kan skala likert, Guttman, Semantic Diffential, Thurstone, data yang diperoleh adalah  data interval. Data ini dapat dibuat menjadi data ordinal.
2.1.3              Rasio
Adalah data yang jaraknya sama dan mempunyai nilai nol absolut. Jadi kalau data nol berarti tidak ada apa-apanya. Hasil pengukuran panjang (m), berat (kg) adalah contoh data rasio. Data yang paling teliti adalah data rasio. Data ini dapat disusun ke dalam data interval ataupun ordinal.

2.2              Data Deskrit, yakni data yang dapat dinyatakan dengan bilangan bulat (saja), yang diperoleh dari hasil menghitung atau membilang (bukan mengukur). Misalnya jumlah meja ada 20, jumlah orang ada 12, dsb. Data ini sering disebut dengan data nominal. Data nominal biasanya diperoleh dari penelitian yang bersifat eksploratif atau survey. Data ini dibedakan lagi menjadi : Data nominal atau data frekuensi, yang terdiri atas :
2.2.1        Data dikotonomi : murni dan buatan
2.2.2        Data multi dikotomi

CONTOH PENGGUNAAN MACAM-MACAM DATA
1.      Korelasi product moment pearson : antara data interval dengan data interval
2.      Korelasi peringkat spearmen : antara data ordinal dengan data ordinal
3.      Korelasi point biserial : antara data interval dengan data dikotomi murni
4.      Korelasi biserial : antara data interval dengan data dikotomi buatan.
5.      Korelasi tetra choric : antara data dikotomi buatan dengan data dikotomi buatan.
6.      Koefisien Phi : antara data dikotomi murni dengan data dikotomi murni.
7.      Koefisien kontingensi (uji keterkaitan Chi Kuadrat) : antara data frekuensi dengan data frekuensi.

F.          METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan ditentukan dengan sifat persoalan/masalah dan jenis data yang diperlukan, yang diteliti. Tidak ada satu metode yang selalu lebih baik dari pada yang lain.
a   Terdapat hubungan positif antara pemahaman tentang hak dan kewajiban warga negara di bidang hukum dengan sikap mahasiswa terhadap pembelian karcis. Sebaiknya mengguna kan metode pene litian deskriptif korelasi.
a   Prestasi belajar santri yang tinggal di Pondok Pesantren lebih tinggi dibanding prestasi belajar santri yang tinggal di luar Pondok Pesantren. Sebaiknya menggunakan metode penelitian eksperi-mental.

G.         POPULASI

Merupakan dari mana sampel diambil atau orang-orang atau sesuatu yang ingin diketahui hal ikhwalnya. Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, baik hasil menghitung maupun pengukuran, kuantitatif atau kualitatif, dari karakteristik tertentu mengenai sekumpulan obyek yang lengkap dan jelas. Populasi merupakan jumlah keseluruhan unit analisis yang akan diselidiki karakteristik atau ciri-cirinya. Populasi dapat dibedakan : Populasi target (sampling) dan populasi terjangkau (sasaran). Misalnya apabila kita mengambil rumah tangga sebagai sampel, sedang yang diselidiki adalah kepala rumah tangga atau kepala keluarga, maka semua rumah tangga dalam wilayah penelitian disebut populasi sampling, sedang seluruh kepala rumah tangga disebut po-pulasi sasaran. Dalam penelitian, populasi yang dipilih erat hubungannya dengan masalah yang ingin dipelajari. Misalnya dalam penelitian tenaga kerja dipilih angkatan kerja sebagai populasi sasaran, dalam penelitian transmigrasi, dipilih para transmigrasi sebagai populasi sasaran, dan sebagainya.

H.         SAMPEL

Sampel adalah yang diambil dari populasi dengan menggunakan cara-cara tertentu. Sampel penelitian adalah sebagian dari unit-unit yang ada dalam populasi yang ciri-ciri atau karakteristiknya benar-benar diselidiki. Dalam suatu penelitian survei tidaklah selalu perlu untuk meneliti semua individu dalam populasi, karena disamping memakan biaya yang sangat besar juga membutuhkan waktu yang lama. Dengan meneliti sebagian unit-unit dari populasi kita mengharapkan bahwa hasil yang diperoleh akan dapat menggambarkan sifat populasi yang bersangkutan. Untuk mencapai tujuan ini, maka cara-cara pengambilan sebuah sampel harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Sebuah sampel haruslah dipilih sedemikian rupa sehingga setiap satuan elementer mempunyai kesempatan atau peluang yang sama untuk dipilih dan besarnya peluang tersebut tidak boleh sama dengan 0. Disamping itu pengambilan sampel secara acak (random) haruslah menggunakan metode yang tepat yang sesuai dengan ciri-ciri populasi dan tujuan penelitian. Meskipun sampel terdiri dari sebagian populasi, tetapi sebagian dari populasi itu tidak selalu dapat disebut sebuah sampel apabila cara-cara pengambilannya tidak benar.

Suatu metode pengambilan sampel yang ideal mempunyai sifat-sifat sebagai berikut;
1.            Dapat menghasilkan gambaran yang dapat dipercaya dari seluruh populasi.
2.            Dapat menentukan presisi 1 dari hasil penelitian dengan menentu kan penyimpangan baku (standar) dari taksiran yang diperoleh.
3.            Sederhana, sehingga mudah dilaksanakan
4.            Dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya serendah-rendahnya.

UKURAN SAMPEL (SAMPEL SIZE)

Sering timbul pertanyaan, berapa besarnya sampel yang harus diambil untuk mendapatkan data yang representatif. Beberapa peneliti menyatakan bahwa besarnya sampel tidak boleh kurang dari 10 persen dan ada pula peneliti lain menyatakan bahwa besarnya sampel minimum 5 persen dari jumlah satuan-satuan elementer dan populasi.
Mengenai ukuran sampel atau besarnya sampel yang harus diselidiki dalam suatu penelitian tergantung pada keragaman karakteristik populasi, tingkat presisi yang dikehendaki, rencana analisis, dan tenaga, biaya serta waktu.

Secara rinci keempat faktor tersebut akan dibahas berikut ini;
1.            Derajat keragaman (degree of homogenity) dari populasi. Makin seragam populasi itu, makin kecil sample yang dapat diambil. Apabila populasi itu seragam pula, maka satu elementer saja dari seluruh populasi itu sudah cukum reprensentatif untuk diteliti. Sebaliknya apabila populasi itu amat tidak seragam, maka hanya pencacahan lengkaplah yang dapat memberikan gambaran yang representative.
2.            Presisi yang dikehendaki dari penelitian. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki, makin besar sampel yang harus diambil. Jadi sampel yang besar cenderung memberikan penduga yang lebih mendekati nilai yang sesungguhnya (true value). Pada sensus lengkap. Presisi ini menjadi mutlak karena nilai taksiran sama dengan nilai parameter. Atau dengan cara lain dapat pula dikatakan bahwa antara besarnya sampel yang diambil dengan besarnya kesalahan (eror) terdapat hubungan yang negatif. Semakin besar sampel yang diambil, semakin kecil pula kesalahan (penyimpangan terhadap nilai populasi) yang didapat.
3.            Rencana analisis. Adakalanya besarnya sampel sedah mencukupi sesuai dengan presisi yang dikehendaki, tetapi kalau dikaitkan dengan kebutuhan analisis, maka jumlah sampel tersebut kurang mencukupi. Misalnya kita ingin menghubungkan tingkat pendidikan responden dengan pemakaian alat-alat kontrasepsi. Kalau kita membagi tingkat pendidikan responden secara terinci, misalnya belum sekolah, belum tamat SD, belum tamat SLTP, dan seterus nya, mungkin tidak cukup untuk mengambil 100 responden karena akan terdapat banyak sel-sel dari matrik yang kosong. Begitu juga untuk perhitungan analisis yang menggunakan perhitungan statistik yang rumit.
4.            Tenaga, biaya dan waktu. Kalau menginginkan presisi yang tinggi maka jumlah sampel harus besar. Tetapi apabila dana, tenaga dan waktu terbatas, maka tidaklah mungkin untuk mengambil sampel yang besar, dan ini berarti bahwa presisinya akan menurun.
Walaupun besarnya sampel harus diambil dalam suatu penelitian didasarkan atas keempat pertimbangan di atas, tetapi agar dapat menghemat waktu, biaya dan tenaga, seorang peneliti harus dapat memperkirakan besarnya sampel yang diambil sehingga dianggap cukup untuk menjamin tingkat kebenaran hasil penelitian. Jadi peneliti sendirilah yang menentukan tingkat presisi yang dikehendaki, yang selanjutnya berdasarkan presisi tersebut dapat menentukan besarnya sampel.

Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan. Secara skematis, teknik sampling ditujukan pada gambar di atas.
Dari gambar tersebut terlihat bahwa, teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu probability sampling dan nonprobability sampling. Probality sampling meliputi, simple random, proportionale stratifield random, dispropotionale stratifield random, dan area random. Non-probability sampling meliputi, sampling sistema tis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh dan snowball sampling.

         PROBABILITY SAMPLING

Probality sampling adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsure (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sample. Teknik ini meliputi :
a.             Simple Random Sampling
Dikatakan simple (sederhana karena pengambilan sample anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.

b.            Proportionale Stratifield Random Sampling
Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/ unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proposional. Suatu organi sasi yang mempunyai pegawai dari latar belakang pendidi kan, maka populasi pegawai itu berstrata.
Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1 = 45, S2 = 30, SMU = 800, SLTP = 900, SD = 300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut yang diambil secara proporsional.

c.             Disproportionale Stratifield Random Sampling
Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sample, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional.
Misalnya pegawai Depdiknas mempunyai; 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang S1, 800 orang SMU, 700 orang SLTP, maka tiga orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sample. Karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SMU, dan SLTP

d.            Cluster Sampling (Area Sampling)
Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sample bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, missal penduduk suatu Negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan.
Misalnya di Indonesia terdapat 32 propinsi, dan sampelnya akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratifield random sampling.
Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah dan tahap berikutnya menentukan daerah itu secara sampling juga.

         NONPROBABILITY SAMPLING

Nonpronanility sampling adalah teknik yang tidak memberi peluang/ kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.

Teknik sampel ini meliputi :
a.            Sampling sistematis
Sampling sistematis adalah teknik penentuan sample berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu dari nomor 1 sampai nomor 100. pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu.
Misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu maka diambil sebagai sampel adalah nomor 5, 10, 15, 20, dan seterusnya sampai 100.

b.            Sampling kuota
Sampling kuota adalah teknik menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.
Sebagai contoh, akan melakukan penelitian terhadap pegawai golongan II, dan penelitian dilakukan secara kelompok. Setelah jumlah sampel ditentutan 100, dan jumlah anggota peneliti berjumlah 5 orang, maka setiap anggota dapat memilih sample secara bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan (golongan II) sebanyak 20 orang.

c.             Sampling aksidental
Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang kebetulan itu cocok sebagai sumber data.

d.            Sampling purposive
Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Misalnya akan melakukan penelitian ten-tang disiplin pegawai, maka sampel yang dipilih adalah orang yang ahli dalam kepegawaian saja.

e.             Sampling jenuh
Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel apabila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan apabila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

  1. Snowball sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang menggelinding makin lama semakin besar. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan sampel purposive dan snowball.

I.            INSTRUMEN PENELITIAN

Instrumen atau alat pengumpul data adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian. Data yang terkumpul dengan menggunakan instrument tertentu akan dideskripsikan dan dilampirkan atau digunakan untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam suatu penelitian.
Instrumen memegang peranan yang sangat penting dalam menen-tukan mutu suatu penelitian, karena validitas atau kesahihan data yang diperoleh akan sangat ditentukan oleh kualitas instrumen yang diguna kan, disamping prosedur pengumpulan data yang ditempuh. Hal ini mudah dipahami karena instrumen berfungsi mengungkapkan fakta menjadi data, sehingga jika instrumen yang digunakan mempunyai kuali tas yang memadai dalam arti valid dan realibel maka data yang dipero leh akan sesuai dengan fakta atau keadaan sesungguhnya di lapangan. Sedang jika kualitas instrument yang digunakan tidak baik dalam arti mempunyai validitas dan reliabilitas yang rendah, maka data yang diperoleh juga tidak valid atau tidak sesuai dengan fakta di lapangan, sehingga dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.

1.      LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN INSTRUMEN
1.1              Berdasarkan sintesis dari teori-teori yang dikaji tentang suatu konsep dari variabel yang hendak diukur, kemudian dirumuskan konstruk dari variabel tersebut. Konstruk pada dasarnya adalah bangun pengertian dari suatu konsep yang dirumuskan oleh peneliti.
1.2              Berdasarkan konstruk tersebut dikembangkan dimensi dan indikator variabel yang sesungguhnya telah tertuang, seca ra eksplisit pada rumusan konstruk variabel pada langkah 1.
1.3              Membuat kisi-kisi instrument dalam bentuk table spesifi-kasi yang memuat dimensi, indikator, nomor butir dan jumlah butir untuk setiap dimensi dan indikator.
1.4              Menetapkan besaran atau parameter yang bergerak dalam suatu rentangan kontinum dari suatu kutub ke kutub lain yang berlawanan, misalnya dari rendah ke tinggi, dari negatif ke positif, dari otoriter ke demokratik, dari dependen ke independen dan seterusnya.
1.5              Menulis butir-butir instrumen yang dapat berbentuk pernya taan atau pertanyaan. Butir instrumen yang dibuat terdiri atas dua kelompok yaitu kelompok butir positif dan kelompok butir negatif.
Butir positif adalah pernyataan mengenai ciri atau keadaan, sikap atau persepsi yang positif atau mendekat ke kutub positif,
Sedang butir negatif adalah pernyataan mengenai ciri atau keadaan, persepsi atau sikap negatif atau mendekat ke kutub negatif.
1.6              Butir-butir yang telah ditulis merupakan konsep instrumen yang harus melalui proses validasi teoritik maupun validasi empirik.
1.7              Tahap validasi pertama yang ditempuh adalah validasi teoritik, yaitu melalui pemeriksaan pakar atau melalui panel yang pada dasarnya menelaah seberapa jauh dimensi merupakan jabaran yang tepat dari konstruk, seberapa jauh indikator merupakan jabaran yang tepat dari dimensi, dan seberapa jauh butir-butir instrumen yang dibuat secara tepat dapat mengukur indikator.
1.8              Revisi atau perbaikan berdasarkan saran dari pakar atau berdasarkan hasil panel.
1.9              Setelah konsep instrument dianggap valid secara teoritik atau secara konseptual, dilakukanlah penggadaan instrumen secara terbatas untuk keperluan uji coba.
1.10          Uji coba instrumrn di lapangan merupakan bagian dari proses validasi empirik. Melalui uji coba tersebut, instrumen diberi kan kepada sejumlah responden sebagai sampel uji coba yang mempunyai karakteristik sama atau ekwivalen dengan karakteristik populasi penelitian. Jawaban atau respon dari sampel uji coba merupakan data empiris yang akan dianalisis untuk menguji validasi empiris atau validasi kriteria dari instrumen yang dikembangkan.
1.11          Pengujian validasi dilakukan dengan menggunakan kriteria baik kriteria internal maupun kriteria eksternal.
Kriteria internal adalah instrumen itu sendiri sebagai suatu kesatuan yang dijadikan kriteria.
Kriteria eksternal adalah instrumen atau hasil ukur tertentu di luar instrumen yang dijadikan sebagai kriteria.
1.12          Berdasarkan kriteria tersebut diperoleh kesimpulan mengenai valid atau tidaknya sebuah butir atau sebuah perangkat instrumen. Jika kita menggunakan kriteria internal, yaitu skor total instrumen sebagai kriteria maka keputusan pengujian adalah mengenai valid atau tidaknya butir instrumen dan proses pengujiannya biasa disebut analisis butir. Dalam kasus lainnya, yakni jika kita meng-gunakan kriteria eksternal, yaitu instrumen atau ukuran lain di luar instrumen yang dibuat yang dijadikan kriteria maka keputusan pengujiannya adalah mengenai valid atau tidak-nya perangkat instrumen sebagai suatu kesatuan.
1.13          Untuk kriteria internal atau validitas internal, berdasarkan hasil analisis butir maka butir-butir yang tidak valid dikeluar kan atau diperbaiki untuk diuji coba ulang, sedangkan butir-butir yang valid dirakit kembali menjadi sebuah perangkat instrumen untuk melihat kembali validitas kontennya berda-sarkan kisi-kisi. Jika secara konten butir-butir yang valid ter sebut dianggap valid atau memenuhi syarat, maka perang kat instrumen yang terakhir ini menjadi instrumen final yang akan digunakan untuk mengukur variabel penelitian kita.
1.14          Selanjutnya dihitung koefisien reliabilitas. Koefisien reliabili tas dengan rentangan nilai (0-1) adalah besaran yang menunjukkan kualitas atau konsistensi hasil ukur instrumen. Makin tinggi koefisien reliabilitas makin tinggi pula kualitas instrumen tersebut. Mengenai batas nilai koefisien yang dianggap layak tergantung tercakup dimensi dan indikator dari variabel yang hendak diukur. Berdasarkan konstruk tersebut ditetapkan indikator-indikator yang akan diukur dari variabel tersebut.
Selanjutnya item-item instrumen dibuat untuk mengukur indikator-indikator yang telah ditetapkan dengan cara seperti telah dikemukakan pada proses penyusunan dan pengembangan instrumen point 4 dan 5. karena bentuk item-item instrumen terlebih dahulu peneliti harus memilih jenis instrumen apa yang sesuai untuk mengukur indikator dari variabel yang akan diteliti.

2.      JENIS INSTRUMEN PENELITIAN
Ada beberapa jenis instrumen yang biasa digunakan dalam penelitian, antara lain kuesioner, skala (skala sikap atau skala penilaian), tes dan lain-lain.
2.1              KUESIONER adalah alat pengumpul data yang berbentuk pertanyaan yang akan diisi atau dijawab oleh responden.
Beberapa alasan digunakan kuesioner adalah :
2.1.1       Kuesioner terutama dipakai untuk mengukur variabel yang bersifat faktual,
2.1.2       Untuk memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian, dan
2.1.3       Untuk memperoleh informasi dengan validitas dan reliabilitas setinggi mungkin.

2.2              SKALA adalah alat pengumpul data untuk memperoleh gambaran kuantitatif aspek-aspek tertentu dari suatu barang, atau sifat-sifat seseorang dalam bentuk skala yang sifatnya ordinal, misalnya sangat baik, baik, sedang, dan sangat tidak baik; atau sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, sangat tidak setuju; atau sangat sering, sering, kadang-kadang, jarang dan tidak pernah. Skala dapat berben tuk skala sikap yang biasanya ditujukan untuk mengukur variabel yang bersifat internal psikologis dan diisi oleh responden yang bersangkutan. Selain itu, skala dapat pula berbentuk skala penilaian yakni apabila skala tersebut dituju kan untuk mengukur variabel yang indikator-indikatornya dapat diamati oleh orang lain, sehingga skala penilaian bukan diberikan kepada unit analisis penelitian (yang bersangku tan) tetapi diberikan atau diisi oleh orang lain yang mempunyai pengetahuan atau pengalaman yang cukup memadai tentang keadaan subyek yang menjadi unit analisis dalam kaitannya dengan variabel yang akan diukur.

Dari bagan tersebut di atas terlihat bahwa untuk keperluan  penyu-sunan dan pengembangan instrumen pertama-tama yang dilakukan adalah menetapkan konstruk variabel penelitian yang merupakan sintetis dari teori-teori yang telah dibahas dan dianalisis yang penyajiannya diuraikan dalam pengkajian teoritik atau tinjauan pustaka.
  
2.3              TES adalah prosedur sistematik yang dibuat dalam bentuk tugas-tugas yang distandarisasikan dan diberikan kepada individu atau kelompok untuk dikerjakan, dijawab, atau dires pons, baik dalam bentuk tertulis, lisan maupun perbuatan.

Secara khusus untuk keperluan pengukuran dan penyesuaian dengan jenis instrumen, maka variabel-variabel yang akan diukur atau diteliti dibedakan atas dua kelompok yaitu variabel konseptual dan variabel faktual. Variabel konseptual dapat dibeda kan lagi atas dua macam, yaitu variabel kreativitas, gaya kepemim pinan, konsep diri, kecemasan dan lain-lain; serta variabel yang sifatnya konten atau bersifat pengetahuan, yaitu berupa pengua saan responden terhadap seperangkat konten atau pengetahuan yang semestinya dikuasai atau diujikan dalam suatu tes atau ujian.

3.      TEKHNIK PENYUSUNAN DAN PENILAIAN BUTIR INSTRUMEN
Secara umum ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis butir instrumen, baik instrumen dalam bentuk skala sikap, skala penilaian, maupun tes. Hal-hal yang perlu diperhatikan diantaranya :
c Butir harus langsung mengukur indikator, yaitu penanda konsep yang berupa sesuatu kesediaan, dan sebagainya.
c Jawaban terhadap butir instrumen dapat mengindikasikan ukuran indikator apakah keadaan responden berada atau dekat ke kutub positif atau keadaan responden berada atau dekat ke kutub negatif, misalnya jika berada atau dekat ke kutub positif menandakan sikap positif, menandakan motiva si tinggi, menandakan kepemimpinan yang efektif, menanda-kan intesitas tinggi, menandakan produktivitas tinggi, menandakan gaya kepemimpinan demokratik, menandakan iklim kerja yang kondusif, dan sebagainya. Sedang jika berada atau dekat ke kutub negatif menandakan sikap negatif, menandakan motivasi rendah, menandakan kepemimpinan yang tidak efektif, menandakan intensitas rendah, menanda kan produktifitas rendah, menandakan gaya kepemimpinan otoriter, menandakan iklim kerja yang tidak kondusif dan sebagainya.
c Butir dapat berbentuk pertanyaan atau pernyataan dengan menggunakan bahasa yang sederhana, jelas, tidak mengan-dung tafsiran ganda, singkat, dan komunikatif.
c Opsi dari setiap pertanyaan atau peryataan itu harus relevan menjawab pertanyaan atau pernyataan tersebut.
c Banyaknya opsi menunjukkan panjang skala yang secara konseptual kontinum. Karena distribusi jawaban responden secara teoritik mendekati distribusi normal untuk jumlah populasi cukup besar, maka sebaiknya menggunakan skala ganjil.

Terdapat bermacam-macam instrumen penelitian.
a.       Wawancara dan kuesioner
b.      TES : (1) tes prestasi, (2) tes kecerdasan
c.       Daftar inventor kepribadian : daftar infentori, skala penilaian
d.      Teknik proyektif
e.       Skala sikap : skala Thurstone, skala Guttman
f.       Teknik Sosiometris
g.      Pengamatan langsung

Syarat-syarat instrumen :
a.       Sahih (valid)
b.      Andal (reliable)
c.       Adil (objektive)
d.      Berdaya pembeda (diseriminating power)
e.       Menyeluruh (comprehensive)
f.       Mudah dan murah untuk dilaksanakan

Analisis Butir Instrumen :
a.       Validitas tiap butir
b.      Tingkat kesukaran
c.       Daya pembeda tiap butir

J.             VALIDITAS

Validitas adalah sejauh mana suatu alat mampu mengukur apa yang dianggap orang seharusnya diukur oleh alat tersebut. Alat ukur di bidang pendidikan dan ilmu jiwa dirancang untuk menaksir bangunan-bangunan pengertian (contruct) seperti prestasi belajar, kecerdasan, kreativitas, bakat, sikap, motivasi dsb. Syarat instrument yang baik adalah valid dan realibel. Validitas suatu instrument selalu bergantung kepada situasi dan tujuan khusus penggunaan instrumen tersebut.

Terdapat tiga jenis validitas, yakni :
a.         Validitas isi (kesesuaian dengan TPK)
b.        Validitas konstruk (berdasarkan teori yang dipakai)
c.         Validitas bangun pengertian

K.          RELIABILITAS

Reliabilitas suatu alat pengukur adalah derajat keajegan (konsisten) alat ukur dalam mengukur apa yang diukur. Untuk mengetahui reliabilitas digunakan beberapa cara, yakni :
1.      Tes ulang                             4. Tes belah dua
2.      Bentuk setara                       5. Kuder Richardson, dan
3.      Alpha Cronbach


Rumus untuk menghitung koefisien reliabilitas :
u  Tes ulang : menggunakan rumus product moment Pearson (r1/21/2)
u  Tes setara : menggunakan rumus product moment Pearson (r1/21/2)
                                              2r1/21/2
u  Belah dua : rxx = ________
                                              1+r1/21/2

                                                                             K           X (K - X)
Kuder Richardson (KR)-21 : rxx = ____ X _________
                                                                           K-1             s2


Keterangan :          K  = Jumlah butir soal
                              X  = rata-rata skor
                              s2 = variansi skor

                                            K              Ssl2          = Jumlah variansi butir
Alpha Cronbach : rxx = _____ X _______
                                         K-1             st2 = Varian total

L.           ANALISIS DATA; DISKRIPTIF

Analisis data secara deskritif merupakan pengolahan data hasil penelitian dengan tujuan agar kumpulan data itu bermakna (meaningful). Deskripsi data ini terdiri atas : Penyajian data dan penampilan ukuran/tendensi sentral serta ukuran/tendensi penyebaran.
1.      PENYAJIAN DATA HASIL PENELITIAN
1.1              Dengan tabel dan daftar :
a.       Daftar tunggal
b.      Daftar kontingensi
c.       Daftar distribusi frekwensi

1.2              Dengan gambar atau diagram :
a.       Diagram lingkaran
b.      Diagram lambang (piktogram)
c.       Diagram peta Kartogram)

1.3              Dengan diagram atau grafik :
a.       Diagram batang :
ü  Satu, dua, tiga komponen
ü  Satu arah, dua arah
b.      Diagram garis
c.       Diagram pencar
d.      Histogram
e.       Poligon
2.      UKURAN SENTRAL (PEMUSATAN)
2.1              Rerata hitung/Arithmatic Mean (u, X) :
Merupakan hasil bagi antara jumlah data dengan banyak data.
a.       Untuk data tunggal
b.      Untuk data kelompok
2.2              Nilai tengah/Median (Me)
Merupakan nilai tengah data setelah data diurutkan dari kecil ke besar atau sebaliknya. Median tidak selalu salah satu diantara data tersebut.
a.       Letak median : urutan ke ½ (N+1).
b.      Nilai median :
ü  Untuk banyak data ganjil : data paling tengah
ü  Untuk banyak data genap : rerata dua data di tengah
ü  Modus (Mo) :
Merupakan data paling banyak muncul (dapat lebih dari satu data)

3.      UKURAN PENYEBARAN
3.1              Rentangan (range) : adalah selisih antara data terbesar dengan data terkecil
3.2              Simpangan (deviasi) : adalah selisih data dengan rerata : x = X – X
3.3              Varians : adalah rerata kuadrat simpangan (s2.S2).
3.4              Simpangan baku (standart Deviasi) : adalah akar varians (s, s)

M.       ANALISIS DATA; INFERENSIAL

Analisis data secara inferensial atau induktif adalah pengolahan data untuk menguji hipotesis yang selanjutnya untuk generalisasi dari sampel ke populasi. Analisis ini terdiri atas : uji kesamaan/perbedaan, uji hubungan/korelasi/keter kaitan, uji prediksi/regresi, dan uji persyaratan analisis data (uji normalitas, homogenitas, linearitas, signifikansi regresi).

1.      UJI KESAMAAN/PERBEDAAN
1.1              Rerata (mean)
1.1.1              s diketahui (uji z) :
a.       Satu kelompok :
u   Dua pihak
u   Satu Pihak
b.      Dua kelompok (s1 = s2) :
u   Dua pihak
u   Satu Pihak


1.1.2              s tidak diketahui (uji t)
a.       Satu kelompok :
u   Dua pihak
u   Satu Pihak
b.      Dua kelompok (s1 = s2) :
u   Dua pihak
u   Satu Pihak
u   Uji ANAVA :
ü  Satu arah
ü  Dua arah
ü  Tiga arah
1.2              Varians (Uji homogenitas)
1.2.1                    Dua kelompok (uji F)
1.2.2                    Banyak kelompok (uji Barlett c2)

2.      UJI HUBUNGAN/KORELASI
2.1              Korelasi Product-Moment Pearson (r) : antara data interval dengan data interval
2.2              Korelasi Peringkat Spearman (l) : antara data ordinal dengan data ordinal
2.3              Korelasi Point-Biserial (rpbi) : antara data interval dengan data dikotomi murni.
2.4              Korelasi Biserial (rbi) : antara data inteval dengan data dikotomi buatan.
2.5              Korelasi Tetrachoric (rt) : antara data dikotomi buatan dengan dikotomi buatan.
2.6              Koefisien Phi (F) : antara data dikotomi murni dengan data dikotomi murni.
2.7              Koefisien kontingensi X2 : antara data rekuensi dengan data frekuensi.

3.      UJI PREDIKSI/REGRESI
3.1              Regresi Linear :
3.1.1              Sederhana : Y = a + bX
3.1.2              Ganda : Y = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + .... + bkXk.
3.2              Regresi Nonlinear

4.      UJI PERSYARATAN ANALISIS DATA
4.1              Uji normalitas data
4.2              Uji homogenitas data
4.3              Uji linearitas data
4.4              Uji signifikasi regresi
  
êêêêê
  
 BAB V
ANALISIS DATA DAN INTERPRESTASI

Setelah dapat dikelompokkan sesuai keperluan, data siap dianalisis. Untuk menentukan analisis data yang akan digunakan harus mempertimbangkan :
c Penyebaran data (berasal dari distribusi normal atau homogen)
c Jenis data
c Hipotesis penelitian

HIPOTESIS PENELITIAN : Prestasi belajar santri yang tinggal di Pondok Pesantren (PP) lebih tinggi dibanding dengan prestasi belajar santri yang tinggal di luar Pondok Pesantren (LP).
Sebagai contoh, analisis data untuk menguji hipotesis tersebut diperoleh dua kelompok data, yakni data prestasi belajar santri yang tinggal di Pondok Pesantren (PP) dan data prestasi belajar santri yang tinggal di luar Pondok Pesantren (LP)
Dianggap dua kelompok data masing-masing berasal dari populasi berdistribusi normal, dan variansi kedua kelompok data sama. Sedangkan variasi populasi tidak diketahui.
Maka hipotesis statistik sebagai berikut :
H0 : mPP = mLP
H1 : mPP > mLP

mPP       = Rata-rata (populasi) hasil belajar santri yang tinggal di Pondok Pesantren.
mLP       = Rata-rata (populasi) hasil belajar santri yang tinggal di luar Pondok Pesantren.

KRITERIA : H0 di tolak atau H1 diterima, apabila nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel pada s = 0,05.
Statistik penguji adalah rata-rata (X)
Pengujian menggunakan uji statistik selisih dua rata-rata :

                                       XPP - XLP
Thitung         = __________________
                                S Ö{1/nPP + 1/nLP}

                    (nPP – 1)S2PP + (nLP – 1) S2LP
S2   = __________________________
                                   nPP + nLP - 2

XPP      = Rata-rata skor (prestasi belajar) santri yang tinggal di Pondok
   Pesantren
XLP      = Rata-rata skor (prestasi belajar) santri yang tinggal di luar
   Pondok pesantren
S2         = Salah baku
NPP      = Jumlah santri yang tinggal di Pondok Pesantren
S2PP      = Variansi skor (prestasi belajar) santri yang tinggal di Pondok
   Pesantren
nLP       = Jumlah santri yang tinggal di luar Pondok Pesantren
S2LP      = Variansi skor (prestasi belajar) santri yang tinggal di luar
   Pesantren

Kemudian ttabel dilihat di tabel pada derajat kebebasan (dk = nPP + nLP – 2 dan pada s = 0,05

Bandingkan antara nilai thitung dengan ttabel, apabila nilai thitung lebih besar dari nilai ttabel maka H0 diterima.

INTERPRETASI : bahwa hipotesis penelitian yang berbunyi Prestasi belajar santri yang tinggal di Pondok Pesantren (PP) lebih tinggi dibandingkan dengan prestasi belajar santri yang tinggal di luar Pondok Pesantren (LP), dapat dibuktikan. Dengan demikian prestasi belajar santri yang tinggal di Pondok Pesantren lebih tinggi dibanding prestasi belajar santri yang tinggal di luar Pondok Pesantren.

HIPOTESIS PENELITIAN : Terdapat hubungan positif antara pemaha-man tentang hak dan kewajiban warga negara di bidang hukum dengan sikap mahasiswa terhadap pembelian karcis.

Data yang dikumpulkan dikelompokkan menjadi dua, yakni data pemahaman tentang hak dan kewajiban warga negara dibidang hukum sebagai variabel bebas (X) dan data sikap mahasiswa terhadap pembelian karcis sebagai variabel terikat (Y). Diasumsikan bahwa kedua kelompok data berasal dari populasi berdistribusi normal, dan merupakan hubungan linier.

Hipotesis statistik sebagai berikut :
H0  : pXY = 0
H1  : pXY < 0

pXY = Koefisien korelasi antara pemahaman tentang hak dan kewajiban warga negara di bidang hukum dengan sikap mahasiswa terhadap pembelian karcis.

KRITERIA : H0 ditolak atau H1 diterima, apabila nilai thitung lebih kecil dari nilai ttabel pada s = 0,05

Statistik penguji adalah koefisien yang dihitung dengan product moment Pearson (rXY)

            N (SXY) – (SX) (SY)
R   = ______________________________
                  Ö {N (SX2) – (SX)2 }  {N (SY2) – (SY)2}


                            rÖn-2
thitung          : ------------------
                            Ö 1 – r2

Apabila nilai thitung lebih kecil dari pada nilai ttabel pada s = 0,05 maka H0 ditolak atau H1 diterima. Dengan demikian hipotesis penelitian terdapat hubungan positif antara pemahaman tentang hak dan kewajiban warga negara di bidang hukum dengan sikap mahasiswa terhadap pembelian karcis didukung oleh data.

INTERPRETASI : Semakin tinggi pemahaman tentang hak dan kewajiban warga negara dibidang hukum maka sikap mahasiswa terhadap pembelian karcis akan semakin positif.


êêêêê

BAB VI
MENYUSUN PROPOSAL PENELITIAN DAN
FORMAT LAPORAN PENELITIAN

MENYUSUN PROPOSAL PENELITIAN

Untuk menyusun proposal penelitian unsur-unsur yang ada dalam proposal sebagai berikut :
PENDAHULUAN

A.          Latar Belakang Masalah
B.           Identifikasi Masalah
C.           Pembatasan Masalah
D.          Rumusan Masalah
E.           Tujuan Penelitian
F.            Manfaat Penelitian

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A.          Pembahasan tentang teori variabel terikat
B.           Pembahasan tentang teori variabel bebas
C.           Penelitian yang relevan
D.          Kerangka berpikir
E.           Hipotesis Penelitian

METODOLOGI PENELITIAN

A.          Tujuan operasional penelitian
B.           Variabel, definisi operasional variable
C.           Tempat dan waktu penelitian
D.          Metode penelitian
E.           Populasi, sample, dan teknik pengambilan sample
F.            Instrumen penelitian
G.          Teknik pengumpulan data
H.          Teknik analisis data dan hipotesis statistik

DAFTAR PUSTAKA




FORMAT LAPORAN PENELITIAN

Untuk menyusun laporan penelitian unsur-unsur yang ada dalam laporan penelitian sebagai berikut :
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.          Latar Belakang Masalah
B.           Identifikasi Masalah
C.           Pembatasan Masalah
D.          Rumusan Masalah
E.           Tujuan Penelitian
F.            Manfaat Penelitian

BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN
PENGAJUAN HIPOTESIS

A.          Pembahasan teori variabel terikat
B.           Pembahasan teori variabel bebas
C.           Penelitian yang relevan
D.          Kerangka berpikir
E.           Hipotesis penelitian

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.          Tujuan operasional penelitian
B.           Variabel, definisi operasional variabel
C.           Tempat dan waktu penelitian
D.          Metode penelitian
E.           Populasi, sampel, dan teknik pengambilan sampel
F.            Instrumen penelitian
G.          Teknik pengumpulan data
H.          Teknik analisis data dan hipotesis statistik
  
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.          Deskripsi data, mencakup rata-rata, median, modus, dan histogram
1.            Data variabel terikat
2.            Data variabel bebas
B.           Pengujian Persyaratan Pengolahan Data
C.           Pengujian Hipotesis Statistik
D.          Interpretasi dan Pembahasan

BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A.          Kesimpulan
B.           Implikasi
C.           Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP

êêêêê
   
 BAB VII
KONSEP PENELITIAN TINDAKAN

KONSEP, PRINSIP, KARAKTERISTIK, DAN KEGUNAAN PENELITIAN.

A.         KONSEP

1.            Penelitian tindakan adalah kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Seluruh prosesnya ... telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksa-naan, pemantauan, dan pengaruh ... menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan profesional.
2.            Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat.
3.            Penelitian tindakan adalah satu bentuk penelitian reflektif diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka, serta pemahaman mereka terhadap praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut.

KONSEP PENELITIAN TINDAKAN :
1.            Hasil penelitian tindakan digunakan sendiri oleh peneliti, atau orang yang ingin menggunakan
2.            Penelitian terjadi dalam situasi nyata yang pemecahan masalahnya diperlukan, dan hasil-hasilnya diterapkan.

DASAR PEMIKIRAN PENELITIAN TINDAKAN :
1.            Penelitian tindakan adalah satu bentuk inkuiri atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri
2.            Penelitian tindakan dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang dilakukan seperti guru, siswa, atau kepala sekolah.
3.            Penelitian tindakan dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi pendidikan.
4.            Tujuan penelitian tindakan adalah memperbaiki dasar pemikiran dan kepantasan dari praktek-praktek, pemahaman terhadap praktek tersebut, serta situasi atau lembaga tempat praktek tersebut dilaksanakan.


B.         PRINSIP/ASAS

ASAS : ada enam asas yang menjadi pedoman penelitian tindakan, yakni:
1.            KRITIK REFLEKTIF,
Kritik reflektif ada tiga langkah :
                        Mengumpulkan catatan, dokumen, dianggap sebagai ”fakta-fakta”
                        Menjelaskan dasar reflektif catatan
                        Pernyataan dapat ditransformasi menjadi pertanyaan

Penelitian dimungkinkan untuk mempertanyakan :
c Apakah data sesuai dengan fakta,
c Apakah generalisasi itu benar dengan memperhatikan serentetan dugaan penilaian yang mendasari penafsiran.

2.            KRITIK DIALEKTIS,
Peneliti dituntut melakukan kritik terhadap gejala yang diteliti nya. Hal diperlukan :
a.       Konteks hubungan secara menyelutuh yang merupakan kesatuan meskipun ada pemisahan yang jelas
b.      Struktur kontradiksi internal yang memungkinkan adanya kecenderungan untuk berubah meskipun ia stabil.

Peneliti dalam melaksanakan kritik dialektis, peneliti dapat memusatkan perhatian pada salah satu atau tiga karakteris tik :
a.       Terpisah tetapi dalam konteks hubungan yang perlu ada
b.      Ika tetapi bhineka
c.       Cenderung berubah

3.            SUMBER DAYA KOLABORATIF,
Peneliti tindakan hendaknya selalu ingat bahwa dia adalah bagian dari situasi yang diteliti, dia bukan hanya pengamat, tetapi juga terlibat langsung dalam proses situasi tersebut. Bagaimana dengan konsep keobjektifan dalam penelitian? Dalam kolaborasi pengertian keobjektifan sebagai berikut :
a.       Proses kolaborasi berfungsi sebagai tantangan terhadap keobjektifan seseorang.
b.      Proses kolaborasi melibatkan pemeriksaan terhadap hubungan antar data yang disediakan oleh berbagai orang yang terlibat dalam penelitian.
c.       Keluaran proses merupakan sederet analisis yang didasari hubungan yang melekat dan diperlukan, baik logis maupun empiris.
d.      Keluaran proses tersebut berupa usulan praktik

4.            RESIKO,
Asas ini akibat dari asa 1, 2, dan 3. Salah satu resiko adalah meleset hipotesis dan kemungkinan untuk melakukan transfor masi. Hal yang mungkin ditransormasikan :
a.       Penafsiran sementara peneliti tentang situasinya
b.      Keputusan peneliti yang terkait dengan persoalan yang dihadapi
c.       Antisipasi peneliti terhadap urutan kejadian yang akan dilalui oleh penelitinya.

Melalui keterlibatan dalam proses penelitian, peneliti berubah pandangan karena dapat melihat sendiri pertentangan dan kemungkinan berubah dalam pandangannya.

5.            STRUKTUR MAJEMUK,
Laporan penelitian berstruktur majemuk, seperti karena sifat penelitian yang reflektif, dialektis, mempertanyakan, dan kolaboratif. Bila situasi pengajaran yang diteliti situasinya harus mencakup paling tidak guru, siswa, pendukung kegiatan belajar, tujuan pengajaran, dan lulusan.
Laporan penelitian secara konvensional meringkas, menyatukan, bersifat linier, menyajikan kronologi peristiwa, urutan sebab akibat, mengatur bukti mendukung kesimpulan nya, sehingga laporannya menyakinkan pembaca.

6.            TEORI, PRAKTEK, DAN TRANSFORMASI
Teori dan praktik merupakan hal yang saling bergantung dan mendukung proses perubahan. Ahli teori terlibat secara langsung dalam praktik. Saling mempertanyakan antara teori dan praktik tidak pernah berhenti. Kritikan teoritis tidak dapat begitu saja membandingkan praktek dengan penafsiran yang berwenang terhadap peristiwa karena harus mengakui :
a.       Bahwa teori itu sendiri harus siap dipertanyakan
b.      Bahwa keluaran satu tahap perkembangan praktis akan menjadi kebutuhan dan kesempatan kerja teori selanjutnya.
Teori itu sendiri yang berdasarkan praktik diubah bentuknya melalui transformasi praktek.

C.         KARAKTERISTIK

Karakteristik penelitian tindikan sebagai berikut :
1.            Situasional, praktis, dan secara langsung relevan dalam situasi nyata dalam dunia kerja
2.            Memberikan kerangka kerja yang teratur kepada pemecahan masalah.
3.            Fleksibel dan adaptif, memungkinkan adanya perubahan selama masa percobaan.
4.            Partisipatori karena peneliti atau anggota tim peneliti sendiri ambil bagian secara langsung atau tidak langsung dalam melaksanakan penelitiannya.
5.            Self-evaluatif, yaitu modifikasi kontinyu dievaluasi dalam situasi nyata, yang bertujuan akhir meningkatkan praktek dengan cara tertentu.
6.            Meskipun berusaha secara sistematis, penelitian tindakan secara ilmiah kurang ketat validitas dalam dan luarnya lemah.

D.         KEGUNAAN

Penelitian tindakan bertujuan untuk :
1.            Meningkatkan praktik
2.            Peningkatan pemahaman praktik oleh praktisinya
3.            Peningkatan situasi tempat pelaksanaan praktik.

Fungsi penelitian tindakan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan kerja :
1.            Alat untuk memecahkan masalah yang diagnosis dalam situasi tertentu.
2.            Alat pelatihan dalam jabatan untuk membekali pekerja dalam ketrampilan dan metode baru, mempertajam analisisnya, dan meningkatkan kesadaran dirinya.
3.            Alat untuk mengenalkan pendekatan tambahan atau inovatori
4.            Alat  untuk meningkatkan kelancaran komunikasi
5.            Alat untuk menyediakan alternatif yang lebih baik pada pemecahan masalah.


êêêêê
  
 BAB VIII
MACAM DAN PROSEDUR
PENELITIAN TINDAKAN

A.         JENIS PENELITIAN PENDIDIKAN TINDAKAN KELAS

Terdapat empat jenis penelitian pendidikan tindakan, yakni :

1.            PENELITIAN TINDAKAN DIAGNOSTIK
Dirancang untuk menuntun ke arah tindakan. Ahli/agen peneliti memasuki situasi yang telah ada. Agen mendiagnosis situasinya, membuat rekomendasi tentang tindakan perbaikan nya. Rekomendasi dihasilkan berdasarkan kumpulan pengala-man masa lalu dan diagnosis saat itu.
Kelemahannya :
Karena rekomendasi dibuat oleh tim peneliti yang tidak terlibat dalam kehidupan sekolah terkait, ada kemungkinan bahwa :
a.       Rekomendasi tersebut tidak realistik
b.      Mendorong penelitian tidak dilakukan

2.            PENELITIAN TINDAKAN PARTISIPAN
Orang yang akan melakukan tindakan harus juga terlibat dalam proses penelitian dari awal. Tanpa kolaborasi diagnosis dan rekomendasi tindakan untuk mengubah situasi cenderung mendorong timbulnya ketidak-amanan, agresi, dan rasionalisasi dari pada kecenderungan untuk mendorong adanya perubahan yang diharapkan.

3.            PENELITIAN TINDAKAN EMPIRIS
Melakukan sesuatu dan membukukan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi. Proses penelitiannya berkenaan dengan pe-nyimpangan catatan dan pengumpulan pengalaman dalam pekerjaan sehari-hari. Idealnya peneliti bekerja dengan kelom-pok sejenis.
Kelemahanya :
Kesimpulan ditarik dari pengalaman dengan satu atau bebe-rapa kelompok yang berbeda dalam beberapa segi yang tak terkontrol, antara lain :
a.       Banyak organisator dan pemimpin kelompok yang tidak da-pat merumuskan hipotesis dan kesimpulan secara cermat.
b.      Pelaku peneliti yang juga dibebani dengan tanggung jawab tindakan biasanya kurang mempunyai waktu mencatat secara lengkap.
c.       Memerlukan usaha yang besar untuk menganalisis semua amanatnya yang sangat banyak.
d.      Sulit untuk berlaku obyektif dalam menilai keluaran usaha tindakannya sendiri.

4.            PENELITIAN TINDAKAN EKSPERIMENTAL
Merupakan bentuk penelitian tindakan yang tersulit. Kesulitan yang mungkin timbul termasuk :
a.       Keterbatasan kemampuan peneliti dalam membuat prediksi yang akurat.
b.      Kekurangmampuan peneliti dalam mengontrol jalannya tindakan sosial.
c.       Kekurangmampuan peneliti dalam melakukan pengukuran yang layak sesuai dengan sifat dasar hubungan sosial.

Keberhasilan penelitian ini jika didukung oleh perencanaan dan kerja sama yang sangat baik dengan setiap orang yang terkait dengan program tersebut.

B.         PROSEDUR

Prosedur dasar penelitian tindakan : bersifat partisipatori dan kolaboratif, yang secara khas dilakukan karena ada kepedulian bersama terhadap keadaan yang perlu ditingkatkan.

C.         PROSES PENELITIAN TINDAKAN

KETERANGAN :
0                    = Perenungan
1                    = Perencanaan
2                    = Tindakan dan observasi I
3                    = Refleksi I
4                    = Rencana terevesi I
5                    = Tindakan dan observasi II
6                    = Refleksi II
7                    = Rencana terevisi II
8                    = Tindakan dan observasi III
9                    = Refleksi III

PERSOALAN-PERSOALAN PRAKTIS
1.      Pemrakarsa peneliti
a.             Kelompok orang yang langsung trlibat (misalnya guru)
b.            Kelompok orang yang memiliki pengetahuan tentang penelitian tindakan dan kemampuan untuk melaksanakannya. Mereka dapat bekerjasama untuk mengadakan penelitian.
2.      Pemilik penelitian tindakan : sebaiknya orang yang akan dikenai sekaligus ikut serta dalam pelaksanaan penelitian (dibuat ikut memiliki)
3.      Sasaran penelitian : persoalan atau masalah yang diteliti adalah yang dapat ditangani lewat tindakan praktis. Penelitian tindakan tidak cocok untuk tujuan pengembangan teori karena alasan utama dilakukan penelitian tindakan adalah peningkatan praktek dalam situasi nyata.
4.      Data penelitian tindakan : adalah hasil amatan, transkrip wawancara, rekaman audio/video : data diambil dari situasi bersama seluruh unsur-unsurnya. Fungsi data adalah sebagai landasan refleksi.
5.      Analisis data : diwakili oleh moment refleksi putaran penelitian. Dengan melakukan refleksi peneliti akan memiliki wawasan otentik yang akan membantu dalam menafsirkan data. Seringkali dalam menganalisa, peneliti sering sangat subjektif dalam menafsirkan data, untuk itu perlu berdiskusi dengan anggota lain, usaha triangulasi hendaknya dilakukan dengan mengacu pendapat atau persepsi orang lain.

D.         TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Teknik pengumpulan data disebut pula teknik pemantauan yang mencakup :
1.                  Catatan anekdot
2.                  Log (catatan harian)
3.                  Kartu cuplikan butir
4.                  Portofolio
5.                  Angket
6.                  Wawancara
7.                  Metode sosiometrik
8.                  Jadwal dan checklist interaksi
9.                  Rekaman pita
10.              Rekaman video
11.              Foto dan slide
12.              Penampilan subyek penelitian dalam kegiatan penelitian

Pemilihan teknik pengumpulan data ini tentu saja disesuaikan dengan jenis data yang akan dikumpulkan.



êêêêê
  
 BAB IX
CLASSROOM RESEARCH DAN ACTION RESEARCH

A.         CLASSROOM RESEARCH (Penelitian Kelas)

Cara baru bagi guru untuk secara sistematis meneliti proses belajar mengajar di kelas mereka sendiri. Di sini peneliti adalah guru.

TUJUAN :
a.             Peningkatan profesionalisme sebagai guru
b.            Peningkatan proses belajar siswa
c.             Pemahaman bagaimana siswa belajar
d.            Pemahaman hubungan belajar mengajar
e.             Menguji keefektifan strategi guru dalam membantu siswa belajar.

MANFAAT :
a.             Memberikan informasi bagi guru bagaimana siswanya belajar di dalam suatu mata pelajaran tertentu
b.            Untuk meningkatkan proses belajar siswa
c.             Menjadikan guru :
ü  Ahli di bidangnya
ü  Mengetahui karakteristik dan kebutuhan siswa
ü  Mempunyai ketrampilan analisis dan memecahkan masalah
ü  Mempunyai komitmen terhadap peningkatan proses belajar mengajar.

Penelitian dan pengajaran seharusnya dipakai bersama-sama untuk peningkatan proses belajar siswa. Kesenjangan penelitian kelas dan hasilnya dengan praktek pengajaran seharusnya = 0 (tidak ada)

B.         PENELITIAN PENDIDIKAN FORMAL

TUJUAN PENELITIAN PENDIDIKAN FORMAL :
1.            Menemukan atau memvalidasi hukum-hukum/prinsip-prinsip umum belajar-mengajar/membangun teori
2.            Memerlukan penguasaan perancangan penelitian teknik pengam bilan sampel, dan analisis statistik.
3.            Bersifat teoritis, sehingga seringkali dirasakan tidak relevan bagi guru
4.            Rancangan seringkali terkontrol ketat, pengambilan sampel secara acak.
5.            Hasil penelitian dapat digeneralisasi ke populasi

KELEMAHAN PENELITIAN PENDIDIKAN FORMAL BAGI GURU :
1.              Mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang bersifat umum/membangun teori
2.              Tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan/kebutuhan guru sehari-hari
3.              Tidak dapat diterapkan di kelas-kelas tertentu
4.              Seringkali metode penelitian biasa tak dapat dipakai di dalam kelas. Misal : pengacakan, adanya variabel-variabel lain.

Dengan penelitian kelas guru dapat menyusun teori sendiri tentang bagaimana siswa dapat belajar dengan baik. Penelitian kelas berorientasi pada tindakan (action)

C.         ACTION RESEARCH

TUJUAN ACTION RESEARCH adalah :
1.            Mengembangkan ketrampilan/pendekatan (mengajar) baru
2.            Memecahkan masalah dengan jalan langsung penerapan di kelas

SIFAT-SIFAT KARAKTERISTIK :
1.            Praktis, relevan dengan situasi nyata
2.            Subjek siswa, pengelola dan sebagainya
3.            Memberikan cara memecahkan masalah/pengembangan
4.            Empirik, berdasarkan observasi yang sesungguhnya
5.            Fleksibel, dapat dirubah selama masa percobaan/penelitian
6.            Sistematis namun kurang mengontrol validitas internal/ekster nal

LANGKAH-LANGKAH :
1.            Tentukan masalah/tujuan
Misalnya :
c Apakah yang membutuhkan adanya perbaikan/peningkatan ?
c Bagaimana memecahkan masalah yang ada?
2.            Kajian pustaka mengenai apa yang sudah pernah dilaksanakan dalam menghadapi masalah seperti ini.
3.            Formulasi hipotesis atau strategi/pendekatan dengan jelas
4.            Buat situasi penelitian, nyatakan prosedur/kondisi yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
5.            Tentukan kriteria evaluasi, cara-cara pengukuran, dan lain-lain untuk memperoleh data
6.            Analisis data yang diperoleh
7.            Adakan evaluasi tentang hasilnya


D.         PERBEDAAN ANTARA ACTION RESEARCH DAN CLASSROOM RESEARCH

ACTION RESEARCH
CLASSROOM RESEARCH


ü  Sering kali dilaksanakan oleh orang luar
ü  Langkah-langkah ditentukan sebelumnya
ü  Bersifat prespektif
ü  Orientasi fungsional
ü  Dilakukan oleh guru sendiri

ü  Langkah-langkah bebas, (tidak ditentukan sebelumnya)
ü  Memecahkan masalah
ü  Orientasi ekletik

E.          KRITERIA PENELITIAN KELAS

PRINSIP-PRINSIP :
1.              Tugas utama guru mengajar, penelitian tidak boleh mengganggu kegiatan utama tersebut
2.              Pengumpulan data tidak boleh mengganggu/menyita waktu guru terlalu banyak
3.              Metodologi harus cukup reliabel
4.              Masalah harus membuat guru tertarik dan tidak terlalu sulit serta dapat dipecahkan
5.              Harus memperhatikan etika penelitian, seperti :
ü  Memperoleh ijin.
ü  Yang diteliti harus dihormati hak-haknya, misal kerahasiaan
ü  Semua yang tercakup harus disetujui dengan prinsip-prinsip penelitian sebelum dimulai.
ü  Harus ada laporan.

F.          MENCARI FOKUS PENELITIAN

Tidak selalu harus mulai dengan masalah mungkin sesuatu harus/dapat ditingkatkan. Misal :
c Apa yang terjadi sekarang ?
c Mengapa itu menjadi masalah ?
c Apa yang dapat saya lakukan ?

G.         BILAMANA PENELITIAN KELAS DILAKUKAN

Penelitian kelas dapat berupa keinginan untuk meneliti :
1.            Diri-sendiri
c Mengapa orang-orang/anak-anak tidak senang....
c Apa yang dapat saya lakukan....
c Ada sesuatu yang ingin saya lakukan untuk memperbaiki....
c Bagaimana pengalaman....dapat diterapkan di....

2.            Pertanyaan kepada siswa :
c Hal-hal apakah yang menurut anda penting, yang telah dipelajari di dalam sesi/pertemuan ini ?
c Apakah yang masih merupakan tanda tanya bagi anda ?

Penelitian kelas dimulai dengan suatu asemen kelas (Classroom Assessment)

TUJUAN CLASSROOM ASSESMENT :
1.            Menilai apa yang telah dipelajari siswa
2.            Menyesuaikan pembelajaran sebelumnya
3.            Bukan untuk memberi skor terhadap keberhasilan/prestasi siswa.

KEGUNAAN CLASSROOM ASSESMENT :
1.            Peningkatan pembelajaran
2.            Memotivasi siswa
3.            Mendetaksi kelemahan-kelemahan siswa, misal : konsepsi yang salah
4.            Evaluasi diri (self evaliation) pada siswa dengan jalan analisis prestasinya
5.            Pendukung pembelajaran :
ü  Kurikulum
ü  Pengembangan profesional
6.            Kebiasaan baik yang berasal dari dalam maupun dari luar sekolah, yang penting :
ü  Siswa harus tahu dan memahami apa artinya memperoleh sukses.
ü  Tunjukkan target. Beri kesempatan untuk mencapai target dan menunjukkan kemampuan.

HASIL CLASSROOM ASSESMENT :
Bukan hanya berupa skor, tetapi juga bentuk-bentuk informasi lain, misal :
c  Deskripsi tingkah laku
c  Pertimbangan-pertimbangan
c  Sosiogram, dan sebagainya.

CARA MELAKUKAN CLASSROOM ASSESMENT :
1.            Menganalisis hasil tes
2.            Mengumpulkan informasi secara kontinu wawancara, observasi, dan sebagainya
3.            Ujian-ujian open book, take home exam dan sebagainya

SEBELUM MELAKUKAN CLASSROOM ASSESMENT SISWA DIAJAK UNTUK :
a.             Menentukan target (materi yang harus dikuasai, masalah yang harus dipecahkan, ketrampilan yang harus diperoleh dan sebagainnya)
b.            Merancang, pengembangan, pengolahan data/prestasi dan interpretasi hasil assessment
c.             Menentukan criteria dan prosedur penilaian. Siswa perlu dapat menilai prestasi sendiri dan membandingkannya dengan orang lain.

MASALAH
Pertanyaan-pertanyaan yang sering menjadi masalah dalam penelitian kelas :
c  Mengapa siswa tidak dapat belajar ?
c  Mengapa siswa tidak mau belajar ?

ALASAN
c  Belum menguasai prerekuisit
c  Guru tidak menyelesaikan target yang harus dicapai
c  Strategi/bahan instruksional tidak memadai
c  Tidak mempunyai motivasi
c  Ada faktor-faktor di luar sekolah dan kontrol guru yang menghambat proses belajar siswa.

MASALAH SEBAIKNYA DIPILIH YANG :
ü   Mungkin diteliti
ü   Jelas
ü   Menarik secara instrinsik
ü   Dapat dilakukan bersama teman
ü   Ada hubungannya dengan kepentingan sekolah.

RAMBU-RAMBU PENELITIAN :
1.            Jangan mengambil masalah yang tidak dapat lagi dipecahkan
2.            Ambil masalah-masalah dengan ruang lingkup yang terbatas dulu
3.            Pilih sesuatu yang penting untuk anda dan siswa anda
4.            Sedapat mungkin bekerja sama dengan teman
5.            Hubungan penelitian anda dengan tujuan-tujuan atau prioritas yang ada dalam pengembangan sekolah.

LANGKAH AWAL DALAM MELAKSANAKAN PENELITIAN KELAS :
1.            Perhatikan :
ü  Apa yang terjadi/ada sekarang ?
ü  Mengapa hal tersebut merupakan masalah ?
ü  Apa yang dapat saya lakukan untuk menanggulanginya/me-mecahkan masalah tersebut ?

2.            Kemudian :
ü  Buat daftar tentang hal-hal/masalah yang anda temui.
ü  Nilai kegunaannya, penting tidaknya, dan kemungkinan masalah tersebut diteliti.

SUMBER/TITIK TOLAK MASALAH UNTUK PENELITIAN KELAS KARENA KESENJANGAN DALAM KINERJA :
a   Ada perbedaan antara pandangan/filsafat guru dengan tingkah laku siswa di kelas.
a   Ada perbedaan antara tujuan-tujuan pelajaran yang dinyatakan guru dengan apa/cara yang dilakukan siswa di kelas.
a   Ada kesenjangan antara persepsi guru dan persepsi siswa, mengenai pelajaran.

PERTANYAAN-PERTANYAAN UNTUK PENELITIAN KELAS BERSIFAT :
ü   Terbuka-menghasilkan hipotesis
ü   Tertutup-verifikasi (pengujian) hipotesis

PRINSIP-PRINSIP PENDEKATAN PADA :
Pertanyaan yang bersifat terbuka :
c  Daerah (cakupan) pertanyaan luas
c  Melakukan pra-penelitian
c  Mempersempit fokus penelitian
Pertanyaan yang bersifat tertutup :
c  Diambil masalah khusus
c  Susun masalah
c  Pilih metodoligi

TEKNIK PENGUMPULAN DATA :

1.            OBSERVASI
Merupakan cara utama dalam penelitian kelas
Pelaksanaan observasi terdiri dari :
c  TERBUKA
Mencatat apa yang terjadi selama pengajaran (fakta) sering kali tidak terfokus.

CARA MELAKUKAN OBSERVASI TERBUKA
Observasi mencatat informasi faktual/diskriptif, misal :
Ketrampilan mengajar.
  Prestasi                                    : ...........................................................
  Mengajar langsung      : ...........................................................
  Mengajar tak langsung            : ...........................................................
  Suara                           : ...........................................................
  Teknik bertanya                      : ...........................................................
  Umpan balik                : ...........................................................
  Materi pelajaran                      : ...........................................................
  Harapan-harapan         : .....................................................................

c  TERFOKUS
Ada fokus tertentu, misal : cara mengajar, bertanya dan sebagainya.

CARA MELAKUKAN OBSERVASI TERFOKUS
1.            Pertanyaan (untuk melihat jenis pertanyaan yang di ajukan guru):
A.               Jenis pertanyaan
a.       Akademik             : faktual
b.      Akademik             : opini
c.       non akademik       : pribadi, prosedural, disiplin,

B.     Jenis respon yang diinginkan
a.       Pertanyaan pikiran
b.      Pertanyaan fakta
c.       Pertanyaan pilihan

C.     Pemilihan responden
a.       Memanggil nama (sebelum bertanya)
b.      Volunteer (setelah bertanya)
c.       Non volunteer (setelah bertanya)

D.    Istirahat (setelah bertanya)
a.       Istirahat sebentar sebelum memanggil nama siswa
b.      Tidak istirahat sebelum memanggil
c.       Panggil nama sebelum bertanya

E.     Cara/tekanan suara dalam bertanya :
a.       Pertanyaan sebagai stimulasi
b.      Pertanyaan sebagai fakta
c.       Pertanyaan sebagai ujian/menakutkan

Contoh :

A
B
C
D
E
1
1
2
2
1
2
2
1
2
2
1
2
3
1
2
2
1
2
4
2
3
2
1
2
5
1
1
2
1
2
6
:
:
:
:
:


2.            Sekuensi pertanyaan
a.       Acak                      b.   Menurut urutan tertentu
3.            Apakah siswa bertanya ?
4.            Apakah ada interaksi siswa-siswa ?

c  TERSTUKTUR
c  SISTEMATIS

KRITERIA PELAKSANAAN OBSERVASI YANG BAIK :
1.            Perencana bersama
a.             Harus ada saling percaya antara yang diobservasi
b.            Harus ada kesesuaian mengenai apa yang akan diobservasi
c.             Materi/konteks pelajaran harus dibicarakan
d.            Kapan/dimana observasi dilaksanakan
e.             Dimana duduk observasi
f.             Bagaimana berinteraksi dengan siswa, dan sebagainya

Semakin spesifik dan terfokus observasi, semakin perlu adanya perencanaan bersama

2.            Fokus
Ada 2 (dua) macam fokus observasi, yaitu :
u  Umum
u  Khusus untuk suatu jenis kegiatan tertentu

Bahayanya fokus observasi yang bersifat umum adalah :
u  Tidak mempunyai kriteria sebagai pegangan
u  Interpretasi mengenai kegiatan di kelas lebih bersifat subjektif.
Karenanya : lebih baik ditentukan dahulu dan disepakati apa yang akan diteliti/diobservasi.

3.            Penentuan Kriteria
Untuk dapat lebih mengarahkan observasi perlu ditentukan sebelumnya kriteria observasi dan standard. Misal : mengajar dengan baik, apa kriteria untuk itu ? kriteria perlu disepakati bersama dan direview secara berkala.

4.            Ketrampilan observasi
    1. Jangan menilai, karenanya perlu diketahui sebelumnya apa yang akan dinilai
    2. Ketrampilan interpersonal membutuhkan kepercayaan dan suportif sehingga yang diobservasi tidak merasa terganggu.
    3. Membuat jadwal/rancangan untuk dapat memperoleh data mengenai kegiatan-kegiatan di kelas.

5.            Umpan balik
Hasil observasi akan baik kalau diberikan umpan balik, jangan :
ü  Dilaksanakan tergesa-gesa
ü  Memberikan penilaian
ü  Searah saja

Umpan balik perlu diberikan :
ü  Secepat mungkin
ü  Berdasarkan pencatatan yang sistematis
ü  Berdasarkan data/fakta
ü  Berdasarkan kriteria yang disepakati
ü  Sebagai bagian dari diskusi dua arah

PRINSIP-PRINSIP YANG PERLU DIINGAT DALAM MELAKUKAN OBSERVASI :
1.            Interaksi observasi-guru harus menyenangkan anak
2.            Tujuan observasi : meningkatkan pengajaran di kelas dan memberikan penguatan terhadap strategi yang berhasil, bukan memberi kritik atau merubah kepribadian guru.
3.            Proses tergantung pada pengumpulan pemakaian data obser-vasi yang bersifat objektif
4.            Guru dianjurkan untuk membuat interensi mengenai pengajaran nya, dari data yang ada menyusun hipotesis yang dapat diuji.
5.            Setiap siklus observasi merupakan bagian dari suatu proses yang dibentuk dari proses lain.
6.            Observer dan guru bersama-sama berpartisipasi dalam suatu proses pengembangan profesional yang dapat menuju ke pening katan mutu pengajaran dan ketrampilan observasi.

2.            CATATAN LAPANGAN (field-notes)

a.             Dapat dipakai untuk memberikan perhatian pada satu isu khusus/tingkah laku guru.
b.            Dapat menggambarkan keadaan umum di kelas + suasananya.
c.             Dapat memberikan deskripsi secara berkesinambungan mengenai seorang siswa yang akan diteliti sebagai studi kasus.
d.            Dapat mencatat perkembangan guru sendiri

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN CATATAN LAPANGAN

KELEBIHAN
    1. Mudah menyusunya tanpa bantuan orang lain
    2. Merupakan catatan yang on going, dapat dipakai sebagai catatan harian.
    3. Informasi tangan pertama, dapat dipelajari oleh guru sendiri
    4. Dapat menunjukkan hubungan antar kejadian
    5. Sangat berguna untuk menyusun satuan studi kasus

KEKURANGAN
1.         Memerlukan alat-alat bantu lain, seperti rekaman tape, transkrip dan sebagainya kalau membutuhkan informasi lebih lanjut.
2.         Tidak mungkin mencatat seluruh percakapan
3.         Baik untuk kelompok kecil, sulit untuk kelas yang besar
4.         Memerlukan waktu banyak
5.         Dapat sangat subyektif.

3.            CATATAN HARIAN (log)

Sebagai informasi yang seringkali dapat berlawanan dengan apa yang dicatat guru dalam field notes.

KEGUNAAN :
a.             Memberikan gambaran tingkah laku siswa selama suatu periode mengajar tertentu.
b.            Dapat memberikan informasi tentang suasana di kelas
c.             Dapat dipakai sebagai bahan trianggulasi (pengecekan kembali dari sudut lain)
d.            Siswa harus dapat bebas mencatat dan memberi komentar mengenai gurunya dan aspek-aspek lain di kelas/sekolah.

KELEBIHAN :
a.             Memberi umpan balik dilihat dari sudut pandang siswa.
b.            Dapat merupakan catatan mengenai suatu episode tertentu atau suasana kelas secara umum.
c.             Dapat membantu mengidentifikasi masalah pribadi siswa
d.            Mengajak siswa ikut serta dalam meningkatkan mutu kelas.
e.             Dipakai sebagai bahan triangulasi

KEKURANGAN :
a.             Seringkali tidak umum di lakukan di sekolah
b.            Sukar bagi anak kecil untuk mencatat gagasan dan perasaan-nya
c.             Siswa dapat merasa tidak enak untuk membicarakan perasaan nya dengan gurunya.
d.            Dapat sangat subyektif
e.             Dapat menimbulkan masalah-masalah etis

4.            INTERVIEW

a.             Memerlukan waktu lama, karena itu biasanya hanya dibatasi pada kasus khusus.
b.            Merupakan sumber informasi yang sangat baik.
c.             Dapat terjadi antara

ü  Guru – Siswa
ü  Observer – Siswa
ü  Siswa – Guru
ü  Guru – Observer

INTERVIEW DAPAT BERLANGSUNG EFEKTIF, APABILA :
a.             Jadi pendengar yang baik dan hargai pendapat siswa.
b.            Usaha menempati posisi yang netral sifatnya, jangan mengeluarkan pendapat anda tentang :
c Subyek yang didiskusikan, atau
c Gagasan siswa tentang subyek tersebut
c.             Jangan menunjukkan keheranan atau ketidak setujuan tentang pendapat siswa
d.            Berilah rasa aman dan ketenangan kepada siswa
e.             Berilah keyakinan kepada siswa bahwa apa yang akan dikatakan tidak akan mempengaruhi kinerjanya
f.             Berilah keyakinan bahwa tidak ada jawaban yang benar/salah.
g.            Ajukan pertanyaan yang sama untuk setiap responden

KELEBIHAN INTERVIEW :
a.             Guru dapat langsung berhubungan dengan siswa
b.            Siswa dapat lebih mengenal guru lebih bebas
c.             Guru dapat langsung mencari informasi yang diperlukan
d.            Dapat dilakukan kepada siswa di dalam/di luar kelas.
e.             Dapat langsung mendiskusikan masalah yang muncul, dan memperoleh informasi segera.

KEKURANGAN INTERVIEW :
a.             Memakan waktu yang lama
b.            Dapat dilakukan dengan bantuan alat-alat perekam yang mungkin saja memberikan kelemahan-kelemahan.
c.             Sukar dilakukan pada anak kecil, khususnya untuk melihat/menerangkan perasaan/gagasan.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN INTERVIEW OBSERVER-SISWA

u   KELEBIHAN
a.             Guru dapat bebas mengerjakan hal lain selama interview menggali informasi dari siswa
b.            Siswa seringkali merasa lebih senang/bebas untuk berbicara dengan orang lain (bukan guru)
c.             Observasi dapat lebih objektif dari pada guru
d.            Observasi/wawancara dapat tetap memberi perhatian terhadap informasi-informasi yang telah ditentukan sebelumnya (tidak menyimpang)


u   KEKURANGAN
a.             Siswa tidak mengenal observer/interviewer, sehingga agak tidak mau memberi informasi yang diperlukan
b.            Apabila guru yang menjadi peneliti maka data yang diperoleh akan merupakan data sekunder, dan dapat menyimpang/bias karena interview.
c.             Sangat memakan waktu lama karena melalui siswa-interviewer-guru.
d.            Sulit memperolah interviewer yang trampil dan melapor kan kepada guru.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN INTERVIEW SISWA-SISWA

u   KELEBIHAN
a.             Antar siswa tidak ada rasa segan/takut mengeluarkan pendapat/perasaan.
b.            Guru dapat bebas mengerjakan hal lain
c.             Dapat menghasilkan hal-hal/pandangan-pandangan yang tidak umum/tak terduga.

u   KEKURANGAN
a.             Siswa belum biasa dengan teknik ini
b.            Dapat menimbulkan perpecahan/keonaran.
c.             Siswa (interviewer) harus mendiskripsikan informasi.

5.            REKAMAN VIDEO/AUDIO

KEGUNAAN
a.             Sebagai alat untuk mengidentifikasi aspek-aspek tertentu dalam proses mengajar guru
b.            Untuk memberikan bukti-bukti yang lebih terpenrinci mengenai aspek-aspek tertentu di dalam pengajaran.
c.             Sebagai sumber data tambahan untuk asesmen di kelas

KELEBIHAN
a.             Sangat berguna untuk memonitor percakapan
b.            Dengan mudah dapat memberikan informasi
c.             Dapat ditinggal dan dibawa kemana-mana
d.            Mencatat percakapan kepribadian
e.             Dapat menelusuri perkembangan aktivitas kelompok
f.             Dapat mendukung asesmen kelas

KEKURANGAN
a.             Tidak mencatat kegiatan-kegiatan yang tanpa suara
b.            Dapat saja mencatat hal-hal yang tidak relevan/berguna
c.             Dapat mengganggu siswa
d.            Dapat terganggu dalam pencatatan, karena masalah teknis perekaman
e.             Seringkali mahal dan memerlukan waktu banyak.

6.            KUESIONER

a.             Merupakan alat yang dapat dengan cepat dipakai memperoleh informasi mengenai beberapa aspek di kelas.
b.            Sulit menyusun pertanyaan-pertanyaan untuk anak-anak kelas awal/rendah.
c.             Buat respons hanya 2-3 macam saja
d.            Buat pertanyaan-pertanyaan sesederhana mungkin
e.             Jangan sampai pertanyaan tidak jelas
f.             Satu pertanyaan hanya menanyakan satu hal tertentu

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN KUESIONER

u   KELEBIHAN
a.             Mudah dilaksanakan, mudah diisi
b.            Mudah dikumpulkan/cepat
c.             Dapat memberikan perbedaan langsung untuk kelompok/ individu
d.            Memberi umpan balik mengenai :
ü  Sikap
ü  Tingkah laku guru
ü  Sarana/sumber
ü  Persiapan pertemuan berikutnya
ü  Kesimpulan pada akhir semester
e.             Data dapat dikualifikasi

u   KEKURANGAN
a.             Memerlukan waktu untuk analisis data
b.            Memerlukan persiapan dan kemahiran untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan yang jelas dan relevan
c.             Keefektifan kuesioner tergantung banyak dari kemampu an membaca dan pemahaman siswa.
d.            Siswa dapat takut menjawab apa adanya
e.             Siswa dapat mencoba memberi jawaban yang menye nangkan.

7.            SOSIOMETRI

Sosiometri atau analisis sosiometrik adalah teknik untuk :
a.             Mengatur struktur emosional suatu kelompok, seperti pera-saan tertarik, acuh tak acuh, dan tidak disukai yang terjadi antara anggota suatu kelompok
b.            Mengidentifikasi siswa yang secara sosial terisolasi sehingga dapat diadakan remedial.

CARA :
a.             Beri setiap anak secarik kertas
b.            Tulis nama masing-masing di atasnya
c.             Guru menulis semua nama siswa di atas papan tulis, juga yang sedang absen
d.            Di sebelah kiri kertas siswa diminta menulis nama-nama teman yang paling mereka senangi/mau bekerja sama.
e.             Paling atas yang paling disenangi, dan seterusnya ke bawah.
f.             Di sebelah kanan atau di baliknya ditulis nama-nama yang paling mereka tidak sukai/tidak mau kerja sama
g.            Masing-masing siswa tidak perlu tahu hasil teman-temannya

SOSIOGRAM
                                                                        F
                                    G
                                                                                    E
                                                A
                                                                                                B
                                                                        C
                                                                                                D

                        Ditolak
                        Diterima

8.            DOKUMENTER

Surat-surat hasil-hasil ujian, cliping, dan sebagainya dapat merupakan informasi yang berguna.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN DOKUMENTER

u   KELEBIHAN
a.             Memberi gambaran tentang issues mengenai kurikulum, teknik mengajar, dsb.
b.            Memberi latar belakang, konteks, dan pemahaman
c.             Merupakan cara yang mudah untuk memperoleh data/informasi tentang persepsi seseorang

u   KEKURANGAN
a.             Seringkali tidak mudah untuk memperoleh data
b.            Beberapa dokumen dapat saja sulit didapat
c.             Seringkali orang tidak mau memberikan dokumen yang bersifat rahasia

9.            SLIDE/FOTO

Biasanya dipakai untuk mengabadikan kejadian-kejadian khusus di kelas, atau menggambarkan episode, juga dipakai sebagai data pendukung dalam interview.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SLIDE/FOTO

u   KELEBIHAN
a.             Memberikan gambaran tentang, aktivitas siswa di kelas, hasil pekerjaan, atau sebagai stimulus diskusi
b.            Sebagai alat untuk memperoleh komentar orang lain (guru) yang kebetulan tak ada pada waktu itu.

u   KEKURANGAN
a.             Hanya menunjukkan kejadian suatu waktu tertentu
b.            Tidak mencatat secara mendalam
c.             Tidak dapat mengonsentrasikan perhatian untuk kelom-pok besar
d.            Gambaran tidak selalu mampu menunjukkan kegiatan siswa (yang membuat foto harus sangat selektif)

10.        STUDI KASUS (Case Study)

Analisis mengenai suatu aspek kehidupan.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN STUDI KASUS

u   KELEBIHAN
a.             Cara yang mudah menggambarkan kemajuan suatu mata pelajaran atau reaksi siswa terhadap metode mengajar guru.
b.            Informasi cenderung akurat dan representatif diban-ding apa yang diperoleh melalui cara-cara yang lain karena biasanya diperoleh melalui berbagai cara

u   KEKURANGAN
a.             Studi kasus agar bernilai harus benar-benar mendalam
b.            Persiapan maupun menulisnya memerlukan waktu yang lama
c.             Umpan balik kepada guru setelah waktu yang cukup lama
  
êêêêê

Text Box: BAB X
LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN KELAS





 BAB X
LANGKAH - LANGKAH PENELITIAN KELAS

1.            Menentukan masalah yang akan diteliti
2.            Mengembangkan fokus penelitian
3.            Memilih/menentukan teknik pengumpulan data
4.            Validasi data
5.            Interpretasi
6.            Tindak lanjut

Memilih teknik pengumpulan data
Menggunakan salah satu teknik pengumpulan data

PENGUMPULAN DATA

            Data yang terkumpul dipakai untuk menerangkan (sementara) ”apa yang terjadi” di kelas ”mengapa itu terjadi” ”apa yang menyebabkan nya”, hipotesis atau konstruk kategori.

VALIDASI DATA

            Validasi data hipotesis, kategori dengan jalan triangulasi (membandingkan persepsi sumber data/informasi yang satu dengan yang lain di dalam/mengenai situasi yang sama). Misal : persepsi situasi mengajar ditinjau dari : guru, siswa dan observer.

CARA LAIN UNTUK MEMVALIDASI DATA

Saturation
Observasi/Interview dilaksanakan berulang-ulang sampai data ”jenuh” (tidak lagi diperoleh data tambahan/baru) sehingga hipotesis tervalidasi.

Kondisi yang harus dipenuhi
ü  Kejelasan, mudah dimengerti
ü  Relevansi, dapat dilaksanakan
ü  Tindakan dapat jelas
ü  Kemauan, harus ada minat, motivasi, keinginan untuk berbuat sesuatu
ü  Ketrampilan, tanpa adanya ketrampilan yang memadai maka tindakan yang diambil dapat tidak kongruen dengan apa yang kelak diperoleh sebagai hasil penelitian.

CHECKLIST

Untuk mereview laporan penelitian, harus memperhatikan :
c  Apakah informasi telah dikumpulkan sesuai dengan rencana ?
c  Apakah informasi tersebut memang yang diperlukan ?
c  Masalah-masalah apa yang dihadapi ?
c  Apakah mungkin dapat dilaksanakan dengan lebih baik ?
c  Apakah mungkin perlu dipakai cara lain untuk pengumpulan data?
c  Apakah telah dikumpulkan semua data yang relevan ?
c  Haruskah dikumpulkan data tentang pendapat-pendapat siswa, pandangan orang tua, perasaan guru-guru lain, dan sebagainya ?
c  Bagaimana informasi yang telah terkumpul dapat dipakai untuk pengambilan keputusan-keputusan yang lebih efektif tentang proses belajar mengajar ?
c  Apakah masih diperlukan informasi lain ?
c  Apakah informasi yang telah diperoleh dapat diinterogasikan dengan cara lain?
c  Apakah interpretasi dan kesimpulan yang diambil valid/sahih ?
c  Apakah informasi disajikan dalam bentuk jelas ?
c  Apakah informasi-informasi tersebut menunjukkan tindakan-tindakan pengajaran yang lebih baik di masa yang akan datang ?
c  Apakah informasi yang diperoleh dapat didiskusikan dengan murid, teman, atau orang tua ?
c  Siapa yang dapat diikutsertakan, mengapa, bagaimana, dan kapan ?
c  Apakah yang dapat diperoleh dari penelitian ini ?
c  Apakah yang harus dirubah apabila dilakukan penelitian di masa yang akan datang ?
c  Apakah siswa, teman, dan lain-lain mempunyai saran-saran untuk itu ?
c  Dapatkah teman-teman berminat untuk berpartisipasi di dalam penelitian-penelitian di masa yang akan datang ?
c  Apakah teman-teman guru juga ikut mempunyai perhatian mengenai apa yang menjadi masalah ?
c  Apakah teman-teman guru lain mempunyai ketrampilan yang dapat membantu penelitian dalam memonitor diri sendiri ?
  
êêêêê
  
 BAB XI
LANGKAH - LANGKAH PENELITIAN TINDAKAN

Langkah-langkah penelitian tindakan biasanya tidak terjadi dalam alur yang lurus. Apabila terjadi perubahan masalah pada waktu penganalisaan masalah, maka diperlukan identifikasi masalah baru. Data diperlukan untuk memfokuskan masalah dan mengidentifikasi faktor penyebab, dalam menentukan hipotesis tindakan

Langkah-langkah penelitian tindakan sebagai berikut :
1.           Mengidentifikasi dan merumuskan masalah

a.             Ruang lingkup masalah
b.            Identifikasi masalah
c  Masalah harus penting bagi yang mengusulkan dan signifikan dilihat dari segi pengemban program
c  Masalah hendaknya dalam jangkauan penanganan
c  Pernyataan masalahnya harus mengungkapkan beberapa dimensi fundamental mengenai penyebab dan faktor, sehingga pemecahannya dapat dilakukan berdasarkan hal-hal fundamental ini dari pada berdasarkan fenomena dangkal.
c.             Rumusan masalah

2.           Menganalisis masalah

Untuk mempertajam analisis, peneliti dapat berusaha untuk menjawab sebagaian pertanyaan di bawah ini :
a.             Apa hubungan antara individu dan kelompok dalam situasi ini ?
b.            Apa yang disingkap oleh situasi ini tentang hubungan antara jatidiri individu dan budayanya ?
c.             Bagaimana situasi ini menyingkirkan hubungan kerja antara nilai-nilai orang dan kepentingan diri mereka ?
d.   Sejauh mana situasi ini dibentuk oleh kondisi objektif, dan sejauh mana situasi dibentuk oleh kondisi subjektif orang-orang yang terlibat ?
e.   Apa yang disingkapkan oleh situasi ini tentang kekuatan, khususnya hubungan antara kendali dan perlawanan ?
f.   Apa yang disingkapkan oleh situasi ini tentang hubungan antara teori dan praktek ?
g.   Apa yang disingkapkan oleh situasi ini tentang hubungan antara proses dan produk ?
h.   Apa yang disingkapkan oleh situasi ini tentang hubungan antara pendidikan dan masyarakat ?
i.     Apa yang disingkapkan oleh situasi ini tentang hubungan transformasi dan reproduksi ?
j.    Apa yang disingkapkan oleh situasi ini tentang hubungan antara stabilitas dan perubahan ?

3.           Merumuskan hipotesis tindakan

Hipotesis dalam penelitian tindakan bukan hipotesis perbedaan atau hubungan, melainkan hipotesis tindakan. Idealnya hipotesis peneli tian tindakan mendekati keketatan penelitian formal. Namun situasi lapangan yang senantiasa berubah membuatnya sulit untuk memenuhi tuntutan itu.
Contoh hipotesis : ”Bila kebiasaan membaca yang salah dibetulkan lewat teknik perbaikan yang tepat dan kesiapan pengalaman untuk me-mahami konteks bacaan ditingkatkan, maka para siswa akan meningkat kecepatan membacanya”. Bila tindakan sudah dilakukan, ternyata hasil nya meleset, maka peneliti harus merumuskan hipotesis tindakan yang baru, untuk putaran tindakan selanjutnya.

4.           Membuat rencana tindakan dan pemantauannya

a.             Apa yang diperlukan untuk menentukan kemungkinan terpecah kannya masalah yang telah dirumuskan.
b.            Alat-alat dan teknik yang diperlukan untuk mengumpulkan bukti/data.
c.             Rencana perekaman/pencatatan data dan pengolahannya.
d.            Rencana untuk melaksanakan tindakannya dan mengevaluasi hasilnya.

5.           Melaksanakan tindakan dan pemantauannya

Data yang dikumpulkan mencakup semua yang dilakukan oleh siapapun yang berada dalam situasi terkait. Untuk menjamin menjamin kelengkapan data, menulis jurnal merupakan bagian dari proses pelaksanaan tindakannya.

Adapun isi jurnal adalah :
a.             Rincian program sehari-hari
b.            Rincian percakapan, wawancara dengan tamu, teman sejawat, dsb.
c.             Pertanyaan untuk penelitian selanjutnya.
d.            Gambar, sketsa, contoh gagasan baru
e.             Pembuatan log harian mengenai praktek tertentu
f.             Amatan tentang penggunaan strategi
g.            Refleksi tentang sesuatu yang dilakukan, misalnya pelajaran yang dilakukan.
h.            Rencana kegiatan untuk masa datang
i.              Respon untuk fokus pertanyaan yang telah ditentukan sebelumnya.

Semua isi jurnal akan menjadi data penelitian tindakan.

6.           Mengolah dan menafsir data

Isi catatan/jurnal dipergunakan untuk refleksi. Isi catatan peneliti yang satu dibandingkan dengan yang lain, untuk mengurangi subyektivitas. Data yang diperoleh melalui tes sangat membantu. Hasil analisis disajikan secara kualitatif deskriptif.

7.           Melaporkan

Mencakup ulasan tentang butir-butir sebagai berikut :
a.             Gagasan umum peneliti, termasuk pengembangan penalaran untuk praktek.
b.            Tindakan yang telah dirumuskan itu terlaksana, dan bagaimana tindakan itu dirumuskan kembali untuk masa datang.
c.             Pelaksanaan pemantauan, apakah ada kemacetan, apakah terjadi perubahan teknis.
d.            Situasi tempat dilaksanakan tindakan
e.             Tindakan strategi yang dilakukan, apakah terus, apakah diubah ?
f.             Konsekuensi tindakan yang dilakukan, terantisipasi, tak terantisipasi
g.            Perubahan peran semua yang terlibat
h.            Keberhasilan usaha untuk menjaga kerahasiaan, keleluasaan pribadi, kehati-hatian.
i.              Perbaikan dalam praktik dan pemahaman terhadap praktik
j.              Pendapat peneliti setelah melakukan tindakan terhadap subjek penelitian.

Pada akhir pelaporan peneliti menyajikan rencana tindak lanjut. Rencana umum revisi termasuk bidang tindakan yang dirumuskan kembali dan langkah-langkah tindakan kedua yang mungkin dilakukan serta teknik pemantauannya.
  
êêêêê

BAB XII
FORMAT PROPOSAL DAN
FORMAT LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN 

FORMAT PROPOSAL

A.          Identifikasi dan perumusan masalah
    1. Ruang lingkup masalah
    2. Identifikasi masalah
    3. Rumusan masalah
B.           Analisis masalah
C.           Perumusan hipotesis
D.          Membuat rencana tindakan
E.           Pelaksanaan tindakan
F.            Pengolahan dan penafsiran data
G.          Pelaporan hasil

FORMAT LAPORAN MENGIKUTI SISTEMATIKA FORMAT PROPOSAL, TETAPI ISI DARI LAPORAN MENCAKUP :

1.            Gagasan umum peneliti, termasuk pengembangan penalaran untuk praktek.
2.            Tindakan yang telah dirumuskan itu terlaksana, dan bagaimana tindakan itu dirumuskan kembali untuk masa datang.
3.            Pelaksanaan pemantauan, apakah ada kemacetan, apakah terjadi perubahan teknis.
4.            Situasi tempat dilaksanakan tindakan
5.            Tindakan strategi yang dilakukan, apakah terus, apakah diubah ?
6.            Konsekuensi tindakan yang dilakukan, terantisipasi, tak terantisipasi.
7.            Perubahan peran semua yang terlibat
8.            Keberhasilan usaha untuk menjaga kerahasiaan, keleluasaan pribadi, kehati-hatian.
9.            Perbaikan dalam praktek dan pemahaman terhadap praktik
10.        Pendapat peneliti setelah melakukan tindakan terhadap subyek penelitian.
  
êêêêê

 BAB XIII
TEKNIK PENULISAN CATATAN KAKI

A.         Cara Mengutip

1.             Kutipan dimaksudkan untuk menambah kejelasan dan menguatkan pendapat. Kutipan langsung merupakan pernyataan yang dituliskan dalam susunan kalimat aslinya tanpa mengalami perubahan sedikitpun. Sedang dalam kutipan tidak langsung susunan kalimat asli diubah dengan susunan kalimat penulis.
2.             Kutipan lebih dari 4 (empat) baris diketik berspasi satu, baris pertama seperti alinea baru, seterusnya dimulai 4 (empat) pukulan ketik dari baris margin kiri. Bagian kalimat yang dikutip diletakkan antara tanda kutip (”.....”), kutipan 4 (empat) baris atau kurang diketik berspasi 2 (dua) dimasukkan ke dalam teks dan ditempatkan dia antara tanda kutip (”.....”).

B.          Cara Menulis Catatan Kaki (Foot Note)

Catatan kaki maksudnya memberikan catatan tambahan tentang sumber yang dikutip, sehingga diletakkan pada halaman yang sama di bawah teks, dibatasi oleh garis sepanjang 14 pukulan ketik.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan catatan kaki adalah :
1.            Tanda catatan kaki diletakkan di ujung kalimat yang dikutip dengan menggunakan angka arab diketik setengah spasi. Contoh : ...... konsepsi tentang hasil belajar PPKn siswa SMP didasarkan pada matra kognitif, dengan mengukur 3 aspek.
2.             Catatan kaki pada tiap bab diberi nomor mulai dari no 1 dan seterusnya dari mulai dengan no 1 kembali pada bab yang baru.
3.             Catatan kaki diketik satu spasi dan dimulai langsung dari batas pinggir kiri atau dapat dimulai setelah enam ketukan tik dari pinggir asalkan dilakukan secara konsisten.
4.             Nama pengarang yang banyaknya sampai 3 orang dituliskan lengkap sedangkan yang lebih dari 3 orang hanya dituliskan nama pengarang pertama ditambahkan kata et al (et alii = dengan kawan-kawan)
5.             Kutipan diambil dari halaman tertentu di sebutkan halaman nya dengan singkatan p (pagina) atau h (halaman) dengan catatan harus konsisten. Bila kutipan dirangkum dari beberapa halaman, misalkan halaman 1 sampai dengan 8 maka ditulis pp 1-5 atau hh 1-5.
6.             Satu kalimat mungkin terdiri dari beberapa catatan kaki. Dalam keadaan seperti ini, tanda catatan kaki diletakkan di ujung kalimat yang dikutip sebelum tanda bacaan penutup, sedangkan untuk kalimat yang deluruhnya terdiri dari satu bagian, tanda catatan kaki diletakkan sesudah tanda bacaan penutup kalimat.
Contoh :
Larrabe mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan yang dapat diandalkan10 sedangkan Richter melihat ilmu sebagai sebuah metode11 dan Conant mendefinisikan ilmu adalah serangkaian konsep sebagai hasil dari pengamatan dan percobaan12
7.             Penulis yang tulisannya diambil sebagai kutipan hanya disebut kan nama familinya saja dan kalau lebih dari 3 orang, hanya nama akhir penulis pertama yang dicantumkan dikutip dengan et al.
8.             Sebuah buku yang diterjemahkan harus ditulis baik pengarang maupun penterjemahan buku tersebut sedangkan sebuah kumpulan karangan cukup disebutkan nama editornya.
9.             Sebuah makalah yang dipublikasikan dalam majalah, koran, kumpulan karangan atau disampaikan dalam forum ilmiah dituliskan dalam tanda kutip yang disertai dengan informasi mengenai makalah tersebut. Contoh : 15, 16, 17, 18

C.          Pengulangan Kutipan

Pengulangan kutipan dengan sumber yang sama dilakukan dengan memakai notasi :
1.            Ibid (Ibidem = dalam tempat yang sama). Notasi Ibid dipakai tidak diselang oleh pengarang lain. Contoh : Ibid , p.150. Ini berarti kutipan dan karangan B. Suprapto seperti yang tercantum pada catatan kaki no 18 tapi nomor halamannya berbeda.
2.            loc cit (loco citato = dalam tempat yang telah dikutip) Notasi ini dipakai bila melakukan pengulangan dalam sumber dan halaman yang sama tapi diselang oleh pengarang lain. Dalam pengulangan ini, nama pengarang tidak ditulis lengkap tapi hanya nama familinya saja. Contoh misalnya kita mengulang kutipan Miriam Budiardjo dalam catatan kaki no 17 tapi terhalang karangan B. Suprapto, maka digunakan loc.cit20
3.            op.cit (opere citato = dalam karya yang telah dikutip). Notasi ini dipakai bila melakukan pengulangan dari sumber yang sama namun halaman yang berbeda dan telah diselang oleh pengarang lain.
4.            Bila dalam kutipan ada seorang pengarang yang menulis beberapa yang menulis beberapa judul karangan, maka dituliskan judul karangannya sebagai pengganti loc.cit atau op.cit. Contoh : Larrabe, Reliable Knowledge p.6
5.            Bila ingin mengutip sebuah pernyataan yang ternyata dikutip dari buku (karangan) lain, maka kedua sumber itu kita tuliskan sebagai berikut : Robert K.Merto N ”The Ambivalence of Scientist”. 1972. pp. 77-97. Dikutip langsung (atau tidak langsung) oleh Maurice N.Richter. Science as a Cultural Process Schenkrnen, p. 114.

D.         Cara Menulis Daftar Pustaka

Ada perbedaan dalam penulisan catatan kaki dan daftar pustaka perbedaan penulisan ini disebabkan karena perbedaan fungsi dari catatan kaki dan daftar pustaka. Tujuan utama dari catatan kaki adalah mengidentifikasikan sumber yang spesifik dari karya yang dikutip. Sedangkan daftar pustaka mengidentifikasikan karya ilmiah itu sendiri.
Berikut ini adalah contoh membuat daftar pustaka. Sistem yang kita pakai adalah sistem urutan abjad nama penulis. Penulisan dimulai dari batas margin dengan jarak 1 spasi. Sedangkan jarak antara pustaka adalah 2 spasi. Perhatikan contoh-contoh di bawah ini :

1.            CONTOH DARI JURNAL/TERBITAN BERKALA
Wildy,H.and Wallace.J. “Understanding Teaching or Teaching for Understanding: Alternative Frame Work for Science Classroom”. Journal of Research in Science Teaching  Vol.32. No.3, 143-157.1995

Hawkes, Stephen J. “Teaching the Truth About pH” Journal of Chemical Education. Vol.71, No.9, 747-749. 1995.

2.            CONTOH BUKU-BUKU
Sjahrir, Sutan. Sosialisme dan Marxisme : Suatu Kritik Terhadap Marxisme. Jakarta : Jambatan, 1976

Budiardjo, Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta : Grasindo, 1988.

3.            CONTOH DARI LAPORAN PENELITIAN
Contemporary Political Science : A Suvey of Methods, Research and Teaching. Paris : Unesco, 1950. (Publication No. 436)
  
êêêêê

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Iklan Gratis

Iklan Gratis

Tiaranova

Tiaranova

IKIMASA

IKIMASA

SMP HT 3

SMP HT 3